Tuesday, 17 February 2015

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA


  • Hello friends..Kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai sejarah perkembangan psikologi agama. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Untuk mendownload filenya dapat klik tulisan di bawah ini:




SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA

Untuk menetapkan  secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci agama maupun sejarah agama.

Sumber-sumber Barat mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari kajian para anthropolog.

Sejak tumbuhnya kesadaran manusia , orang telah merenungkan tentang arti hidup dan keberadaan di dunia, mengapa manusia berperilaku seperti itu, dan bagaimana arti hidup dan perilaku itu berhubungan dengan dunia ilahiah. Untuk itu dapat dipahami bahwa mempercayai zat yang adikodrati(supranatural) sebagai pencipta alam ini adalah tabiat manusia yang ada bersama dengan adanya tubuh manusia. Dengan kata lain, paling tidak mempercayai adanya tuhan,  telah mengambil tempat pada diri manusia.
Perjalanan hidup Sidharta Gautama dari seorang putra raja Kapilawatsu yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang petapa menunujukan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tokoh agama budha. Dan proses itu kemudian dalam psikologi agama disebut dengan konveksi agama.
Sidharta Gautama yang putra raja itu, sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan istana yang serba mewah. Tetapi, ketika usia remaja, saat melihat kehidupan masyarakat, Sidharta menyaksikan segala bentuk penderitaan manusia dari yang tua, sakit, dan orang yang meninggal dunia. Pemandangan seperti itu tak pernah dilihat Sidharta sebelumnya. Dari dialog dengan pengawalnya, Sidharta berkesimpulan bahwa kehidupan manusia penuh dengan penderitaan, mengalami usia lanjut, sakit, dan akhirnya akan mati.
Segala yang disaksikan oleh Sidharta itu kemudian membatin dalam dirinya, hingga pada suatu malam ia ke luar dari istana dan meninggalkan segala kemewahan hidup. Ia mengasingkan diri menjadi pertapa, hingga kemudian memberi arah baru dalam kehidupan selanjutnya. Sidharta Gautama mengalami konversi agama dari pemeluk agama Hindu menjadi pendakwah agama baru, yaitu agama Budha. Sidharta kemudian dikenal sebagai Budha Gautama
Berdasarkan sumber barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai populer sekitar abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berfikir dan mengemukakan perasaan keagamaan.

Psikologi Agama Abad ke-19

Pada pertengahan abad ke-19, melintas modern yang tumbuh sejak abad ke-16, siap untuk berkembang secara penuh. Dimana pada abad pertengahan tersebut, manusia dipandang menduduki tempat utama dalam kosmos. Bumi dianggap sebagai pusat alam raya dan segala hal yang paling indah dan tinggi. Tetapi teori Copernicus tentang matahari sebagai pusat alam raya dan teleskop galileo, ditambah lagi pengaruh pemikiran baru Rene Descrates dan Issac Newton, menjadi awal bergeraknya kekuatan baru.
Pengaruh dari gerakan itu pada abad ke-19, telah mengubah pandangan tentang kedudukan manusia. Bumi dan langit tidak lagi dipandang sebagai demi manusia, bahkan sebaliknya manusia ditafsirkan hanya sebagai bagian dunia.

Terbitnya buku origin of species, buah karya Darwin tahun 1859, dapat disebut sebagai langkah simbolis yang mengisyaratkan bahwa hidup manusia sendiri dapat diamati dengan diteliti serta dibuat hipotesis secara rasional.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh prof. Dr. Zakiah daradjat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa dilngkungan IAIN. Di ;uar itu, kuliah mengenai psikologi agama sudah diberikan,khususnya  di Fakultas Tarbiyah o;ek prof. Dr. A. Mukti Ali dan prof, dr, zakiah Daradjat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Di luar itu, ada sejumlah tulisan yang berkaitan dengan psikologi agama ini. Tulisan tersebut dikembangkan dilingkungan bidang kedokteran, seperti yang dilakukan oleh prof. Dr. Aulia maupun K.H. SS. Djam’an yang melakukan pendekatan dengan menggunakan ajaran agama islam. Sedangkan dibidang akademik  tulisan- tulisan mengenai psikologi agama banyak dihasilkan oleh kalangan gereja khatolik.

Psikologi agama tergolong cabang psikologi yang berusia muda. Berdasarkan informasi dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Selain itu, pada tahap-tahap awalnya psikologi agama didukung oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.

Psikologi Agama Abad ke-20

Sumber-sumber barat mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah modern dilapangan psikologi agama dimulai dari kajian para antropolog dan sosiolog seperti Stanley Hall. Disamping itu, hal yang sangat menguntungkan adalah bahwa disekitar pergantian abad ke-19 dan ke-20 terbit dua buah buku yang menjembatani jurang antara psikolog dan agama serta banyak mengatasi rasa permusuhan antara keduanya.

Sumber-sumber barat umumnya merujuk awal kelahiran psikologi agama adalah dari karya Edwin Diller Starbuck dan William James. Buku karya E.D. Starbuck diterbitkan tahun 1899, dinilai sebagai buku paling khusus membahas masalah yang menyangkut psikologo agama. Setahun kemudian, William James menerbitkan buku yang berisi pengalaman agama. Buku-buku ini dianggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari lahir psikolosi agama menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Psikologi agama diakui sebagai disiplin ilmu, cabang dari psikologi, seperti ilmu-ilmu cabang psikoogi lainya.
Jadi, pada dasa warsa awal abad ke-20 para penulis dan peneliti yang karya-karyanya bertumpu pada karya Starbuck dan James memberi identitas pada munculnya istilah “Psikologi Agama”.

Setelah negara islam bebas dari kungkungan penjajah barat, secara bertahap muncul karya-larya ilmuwan muslim. Karya penulis muslim di zaman modern, seperti buku al-maghary, bagaimanapun dapat disejajarkan dengan karya-karya yang dihasilkan oleh ahli-ahli psikologi agama lainya. Selain itu juga, bukunya yang mulai khusus kepada disiplin ilmu tertentu, seperti al-nummuwu al-nafsy. Keduanya diterbitkan tahun 1955 dan 1957.

Sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan dengan usianya yang masih muda. Hal ini antara lain disebabkan, selain bidang kajian psikologi agama menyangkut kehiduan manusia secara pribadi, maupun kelompok, bidang kajianya juga mencakup permasalahan yang menyangkut perkembangan usia manusia.
Perkembangan agama yang cukup pesat ini ditandai dengan diterbitkanya berbagai jarya tulis, baik berupa buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana peranagama dalam kehidupan manusia.

METODE PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah.Kajian dilakukan dengan memepelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif.
Karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangant mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh subjektifitas.Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, masih diperlukan adanya sikap yang objektif.
Makanya dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain:
1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia;
2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris;
3. Dalam penelitian harus bersikap filosofis-spiritualistis;
4. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali;
5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi dan metodenya;
6. Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metode-metodenya;
7. Menyadari tentang adanya, perbedaan antara ilmu dan agama;
8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penilitian ilmiah.
Dengan berpedoman kepada petunjuk-petunjuk seperti dikemukakan di atas, diharapkan para peneliti dalam mengumpulkan, mengolah dan menganalisa data akan bersikap lebih objektif.
Dalam meneliti psikologi agama digunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
          1. Dokumen Pribadi (Personal Document)
          2. Kuesioner dan Wawancara

Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Demikian pula, ada yang menggunakan dokumen pribadi, baik berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan angket, dan wawancara sebagai pelengkap.

Psikologi Agama dalam Islam

Secara terminologis, memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari leteratur Barat. Dan dikalangan ilmuan Barat yang mula-mula menggunakan sebutan psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, melalui karangannya Psychology of Religion yang terbit tahun 1899. Namun, hal ini tidak berarti bahwa di luar itu studi yang berkaitan dengan psikologi agama belum pernah dilakukan oleh para ilmuwan non-Barat.

Meskipun di kalangan ilmuwan Muslim kajian-kajian dalam  psikologi agama mulai dilakukan secara khusus sekitar pertengahan abad ke-20, namun permasalahan yang ada sangkut-pautnya dengan bidang kajian ini sudah berlangsung sejak awal perkembangan Islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama.

Sudah sejak lama Al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki sosok diri yang terbentuk dari unsur fisik dan nonfisik. Secara anatomis, pemahaman terhadapa unsur fisik tampaknya tak jauh berbeda dari konsep manusia menurut pandangan ilmuwan Barat, meskipun dalam pengertian khusu konsep Islam tentang manusia lebih rinci.

Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.

No comments:

Post a Comment