- Hello friends..Kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai sejarah perkembangan psikologi agama. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Untuk mendownload filenya dapat klik tulisan di bawah ini:
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai
dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah
tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun
demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi
ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi
kitab suci agama maupun sejarah agama.
Sumber-sumber
Barat mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari
kajian para anthropolog.
Sejak
tumbuhnya kesadaran manusia , orang telah merenungkan tentang arti hidup dan
keberadaan di dunia, mengapa manusia berperilaku seperti itu, dan bagaimana
arti hidup dan perilaku itu berhubungan dengan dunia ilahiah. Untuk itu dapat
dipahami bahwa mempercayai zat yang adikodrati(supranatural) sebagai pencipta
alam ini adalah tabiat manusia yang ada bersama dengan adanya tubuh manusia.
Dengan kata lain, paling tidak mempercayai adanya tuhan, telah mengambil tempat pada diri manusia.
Perjalanan
hidup Sidharta Gautama dari seorang putra raja Kapilawatsu yang bersedia
mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang petapa
menunujukan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan
keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini
mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tokoh agama budha.
Dan proses itu kemudian dalam psikologi agama disebut dengan konveksi agama.
Sidharta Gautama yang
putra raja itu, sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan istana yang serba
mewah. Tetapi, ketika usia remaja, saat melihat kehidupan masyarakat, Sidharta
menyaksikan segala bentuk penderitaan manusia dari yang tua, sakit, dan orang
yang meninggal dunia. Pemandangan seperti itu tak pernah dilihat Sidharta
sebelumnya. Dari dialog dengan pengawalnya, Sidharta berkesimpulan bahwa
kehidupan manusia penuh dengan penderitaan, mengalami usia lanjut, sakit, dan
akhirnya akan mati.
Segala yang disaksikan
oleh Sidharta itu kemudian membatin dalam dirinya, hingga pada suatu malam ia
ke luar dari istana dan meninggalkan segala kemewahan hidup. Ia mengasingkan
diri menjadi pertapa, hingga kemudian memberi arah baru dalam kehidupan
selanjutnya. Sidharta Gautama mengalami konversi agama dari pemeluk agama Hindu
menjadi pendakwah agama baru, yaitu agama Budha. Sidharta kemudian dikenal
sebagai Budha Gautama
Berdasarkan
sumber barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi
agama mulai populer sekitar abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin
berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat
membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berfikir dan mengemukakan
perasaan keagamaan.
Psikologi
Agama Abad ke-19
Pada
pertengahan abad ke-19, melintas modern yang tumbuh sejak abad ke-16, siap
untuk berkembang secara penuh. Dimana pada abad pertengahan tersebut, manusia
dipandang menduduki tempat utama dalam kosmos. Bumi dianggap sebagai pusat alam
raya dan segala hal yang paling indah dan tinggi. Tetapi teori Copernicus
tentang matahari sebagai pusat alam raya dan teleskop galileo, ditambah lagi
pengaruh pemikiran baru Rene Descrates dan Issac Newton, menjadi awal
bergeraknya kekuatan baru.
Pengaruh
dari gerakan itu pada abad ke-19, telah mengubah pandangan tentang kedudukan
manusia. Bumi dan langit tidak lagi dipandang sebagai demi manusia, bahkan
sebaliknya manusia ditafsirkan hanya sebagai bagian dunia.
Terbitnya buku origin of species, buah karya Darwin tahun 1859, dapat disebut sebagai langkah simbolis yang mengisyaratkan bahwa hidup manusia sendiri dapat diamati dengan diteliti serta dibuat hipotesis secara rasional.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh prof. Dr. Zakiah daradjat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa dilngkungan IAIN. Di ;uar itu, kuliah mengenai psikologi agama sudah diberikan,khususnya di Fakultas Tarbiyah o;ek prof. Dr. A. Mukti Ali dan prof, dr, zakiah Daradjat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Di luar
itu, ada sejumlah tulisan yang berkaitan dengan psikologi agama ini. Tulisan
tersebut dikembangkan dilingkungan bidang kedokteran, seperti yang dilakukan
oleh prof. Dr. Aulia maupun K.H. SS. Djam’an yang melakukan pendekatan dengan
menggunakan ajaran agama islam. Sedangkan dibidang akademik tulisan- tulisan mengenai psikologi agama
banyak dihasilkan oleh kalangan gereja khatolik.
Psikologi agama tergolong cabang
psikologi yang berusia muda. Berdasarkan informasi dari berbagai literatur,
dapat disimpulkan bahwa kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang
berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Selain itu,
pada tahap-tahap awalnya psikologi agama didukung oleh para ahli dari berbagai
disiplin ilmu.
Psikologi
Agama Abad ke-20
Sumber-sumber
barat mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah modern dilapangan psikologi agama
dimulai dari kajian para antropolog dan sosiolog seperti Stanley Hall.
Disamping itu, hal yang sangat menguntungkan adalah bahwa disekitar pergantian
abad ke-19 dan ke-20 terbit dua buah buku yang menjembatani jurang antara
psikolog dan agama serta banyak mengatasi rasa permusuhan antara keduanya.
Sumber-sumber
barat umumnya merujuk awal kelahiran psikologi agama adalah dari karya Edwin
Diller Starbuck dan William James. Buku karya E.D. Starbuck diterbitkan tahun
1899, dinilai sebagai buku paling khusus membahas masalah yang menyangkut
psikologo agama. Setahun kemudian, William James menerbitkan buku yang berisi
pengalaman agama. Buku-buku ini dianggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari lahir psikolosi agama menjadi
disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Psikologi
agama diakui sebagai disiplin ilmu, cabang dari psikologi, seperti ilmu-ilmu
cabang psikoogi lainya.
Jadi,
pada dasa warsa awal abad ke-20 para penulis dan peneliti yang karya-karyanya
bertumpu pada karya Starbuck dan James memberi identitas pada munculnya istilah
“Psikologi Agama”.
Setelah
negara islam bebas dari kungkungan penjajah barat, secara bertahap muncul
karya-larya ilmuwan muslim. Karya penulis muslim di zaman modern, seperti buku
al-maghary, bagaimanapun dapat disejajarkan dengan karya-karya yang dihasilkan
oleh ahli-ahli psikologi agama lainya. Selain itu juga, bukunya yang mulai
khusus kepada disiplin ilmu tertentu, seperti al-nummuwu al-nafsy. Keduanya
diterbitkan tahun 1955 dan 1957.
Sejak
menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama
dinilai cukup pesat, dibandingkan dengan usianya yang masih muda. Hal ini
antara lain disebabkan, selain bidang kajian psikologi agama menyangkut
kehiduan manusia secara pribadi, maupun kelompok, bidang kajianya juga mencakup
permasalahan yang menyangkut perkembangan usia manusia.
Perkembangan
agama yang cukup pesat ini ditandai dengan diterbitkanya berbagai jarya tulis,
baik berupa buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana
peranagama dalam kehidupan manusia.
METODE
PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Sebagai
disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian
ilmiah.Kajian dilakukan dengan memepelajari fakta-fakta berdasarkan data yang
terkumpul dan dianalisis secara objektif.
Karena
agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangant
mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari
pengaruh subjektifitas.Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat
dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya,
masih diperlukan adanya sikap yang objektif.
Makanya
dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain:
1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan
kesadaran batin manusia;
2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman
dapat dibuktikan secara empiris;
3. Dalam penelitian harus bersikap
filosofis-spiritualistis;
4. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan
angan-angan atau perkiraan khayali;
5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi
dan metodenya;
6. Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui
metode-metodenya;
7. Menyadari tentang adanya, perbedaan antara ilmu
dan agama;
8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang
digunakan dalam penilitian ilmiah.
Dengan berpedoman kepada petunjuk-petunjuk seperti dikemukakan
di atas, diharapkan para peneliti dalam mengumpulkan,
mengolah dan menganalisa data akan bersikap lebih objektif.
Dalam
meneliti psikologi agama digunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat
dikemukakan sebagai berikut:
1. Dokumen
Pribadi (Personal Document)
2. Kuesioner
dan Wawancara
Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama
sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan
jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen
pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Demikian pula, ada yang menggunakan
dokumen pribadi, baik berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan,
juga menggunakan angket, dan wawancara sebagai pelengkap.
Psikologi Agama dalam
Islam
Secara terminologis,
memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan klasik, karena latar
belakang sejarah perkembangannya bersumber dari leteratur Barat. Dan dikalangan
ilmuan Barat yang mula-mula menggunakan sebutan psikologi agama adalah Edwin
Diller Starbuck, melalui karangannya Psychology of Religion yang terbit
tahun 1899. Namun, hal ini tidak berarti bahwa di luar itu studi yang berkaitan
dengan psikologi agama belum pernah dilakukan oleh para ilmuwan non-Barat.
Meskipun di kalangan ilmuwan Muslim kajian-kajian
dalam psikologi agama mulai dilakukan
secara khusus sekitar pertengahan abad ke-20, namun permasalahan yang ada
sangkut-pautnya dengan bidang kajian ini sudah berlangsung sejak awal
perkembangan Islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran
Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama.
Sudah sejak lama Al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia
sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki sosok diri yang terbentuk dari unsur
fisik dan nonfisik. Secara anatomis, pemahaman terhadapa unsur fisik tampaknya
tak jauh berbeda dari konsep manusia menurut pandangan ilmuwan Barat, meskipun
dalam pengertian khusu konsep Islam tentang manusia lebih rinci.
Di
abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual
mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap
prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik
terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi
lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak)
untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum
terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud,
Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.
No comments:
Post a Comment