- Pada kesempatan ini saya berbagi pengetahuan mengenai "Kepemimpinan Pendidikan", kita dapat melihat pemimpin yang baik itu seperti apa. Dengan ini semoga wawasan kita bertambah luas. Ok langsung saja baca dan pahami dari materi berikut ini. Dan untuk filenya dapat di download di bawah ini:
KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
A. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah salah satu faktor yang menentukan kesuksesan
dalam sebuah manajemen pendidikan. Untuk itu perlu kiranya dibahas tentang
pengertian kepemimpinan, teori kepemimpinan, tipe kepemimpinan, pengertian
manajemen, dan kepemimpinan sehubungan dengan manajemen pendidikan. Mengapa
perlu ada pemimpin? Pemimpin diperlukan sedikitnya terdapat empat macam alasan,
yaitu, yaitu (a) karena banyak orang memerlukan figur pemimpin, (b) dalam
beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya, (c) sebagai
tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelompoknya, dan
(d) sebagai tempat untuk meletakan kekuasaan. Untuk mengetahui definisi
kepemimpinan maka lebih baik kita mengetahui dahulu konsep dari kepemimpinan
yang dilihat dari sejarah perkembangannya, yaitu:
1. Suatu kemampuan yang menganggap bahwa kepimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin. Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai traits within the individual leader. Dimana konsep ini merupakan konsep kepemimpinan yang paling tua dan paling lama dianut orang.
2. Konsep yang kedua memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok (funtion of the group). Menurut konsep ini, sukses tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang memimpin.
3. Konsep yang ketiga adalah konsep yang didasarkan atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga terhadap politik dan ekonomi. Menurut konsep ini kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi. Konsep yang ketiga ini menunjukan bahwa, betapa pun seorang pemimpin telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsinya sebagai anggota kelompok, sukses-tidaknya kepemimpinanya masih ditentukan pula oleh situasi yang selalu berubah-ubah. Adanya perubahan dan perkembangan tersebut dituntut adanya perubahan dan perkembangan dalam sifat-sifat, kemampuan, dan gaya kepemimpinan yang diperlukan.
Dari konsep
tersebut diatas maka dapat ditarik suatu definisi kepemimpinan yang dipaparkan
oleh beberapa ahli, antara lain:
a. Koontz & O’donnel, mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan sekelompoknya.
b. Wexley & Yuki (1977), kepemimpinan mengandung arti mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka.
c. George R. Terry, kepemimpinan adalah mempengaruhi orang-orang untuk bersedia berusaha mencapai tujuan bersama.
d. Fiedler (1967), kepemimpinan adalah pada dasarnya pola hubungan antara individu-individu yang mengandung wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan.
e. John Pfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan dan memotivasi orang-orang dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di kehendaki.
f. Davis (1977), mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat.
g. Locke et.al (1991), mendefinisan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama. Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari pola hubungan, kemampuan mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang lain.
h. Amitai Etzioni, kepemimpinan adalah kekuatan (power) yang didasarkan atas tabiat/ watak seseorang yang memiliki kekuasaan lebih, biasanya bersifat normatif.
i. Daniel Katz and Robert I. Kahn, hakikat kepemimpinan organisasi adalah penambahan pengaruh (influential increment) terhadap dan tersebut pelaksanaan mekanism pengarahan-pengarahan rutin dari suatu organisasi
j. James Lipham, kepemimpinan adalah permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi.
Dari beberapa
definisi tersebut, ada beberapa unsur pokok yang mendasari atau sudut pandang
dan sifat-sifat dasar yang ada dalam merumuskan definisi kepemimpinan yaitu:
1) Unsur-unsur yang mendasari
Unsur-unsur yang mendasari kepemimpinan dari definisi-definisi yang dikemukakan tersebut, adalah: (1) Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/ bawahan). (2) Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok. (3) Adanya unsur kerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2) Sifat dasar kepemimpinan
Sifat-sifat yang mendasari kepemimpinan adalah kecakapan memimpin. Paling tidak, dapat dikatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsur kecakapan pokok, yaitu: (1) Kecakapan memahami individual, artinya mengetahui bahwa setiap manusia mempunyai daya motivasi yang berbeda pada berbagai saat dan keadaan yang berlainan. (2) Kemampuan untuk menggugah semangat dan memberi inspirasi. (3) Kemampuan untuk melakukan tindakan dalam suatu cara yang dapat mengembangkan suasana (iklim) yang mampu memenuhi dan sekaligus menimbulkan dan mengendalikan motivasi-motivasi (Tantangan M. Amirin, 1983:15). Pendapat lain, menyatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsur pokok yang mendasarinya yaitu: (1) Seseorang pemimpin harus memiliki kemampuan persepsi sosial (sosial perception). (2) Kemampuan berpikir abstrak (ability in abstrakct thinking). (3) Memiliki kestabilan emosi (emosional stability).
Kemudian dari definisi Locke, yang
dikemukakan tersebut, dapat dikategorikan kepemimpinan menjadi tiga elemen
dasar, yaitu:
a) Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relation consept), artinya kepemimpinan hanya ada dalam relasi dengan orang lain, maka jika tidak ada pengikut atau bawahan, tak ada pemimpin. Dalam definisi Locke, tersirat premis bahwa para pemimpin yang efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berelasi dengan para pengikut mereka.
b) Kepemimpinan merupakan suatu proses, artinya proses kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritasatau posisi jabatan saja, karena dipandang tidak cukup memadai untuk membuat seseorang menjadi pemimpin, artinya seorang pemimpin harus melakukan sesuatu. Maka menurut Burns (1978), bahwa untuk menjadi pemimpin seseorang harus dapat mengembangkan motivasi pengikut secara terus menerus dan mengubah perilaku mereka menjadi responsif.
c) Kepemimpinan berarti mempengaruhi orang-orang lain untuk mengambil tindakan, artinya seorang pemimpin harus berusaha mempengaruhi pengikutnya dengan berbagai cara, seperti menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, restruksisasi organisasi dan mengkomunikasikan sebuah visi. Dengan demikian, seorang pemimpin dapat dipandang efektif apabila dapat membujuk para pengikutnya untuk meninggalkan kepentingan pribadi meeka demi keberhasilan organisasi Bass, (1995. Locke et.al., 1991,. dalam Mochammad Teguh, dkk., 2001: 69).
B. Dimensi-dimensi Kepemimpinan
Berdasarkan penemuan-penemuan dalam penelitian Dorwin Cartwrigt dan
Alvin Zander mengemukakan kepemimpinan dipandang dari dua fungsi kelompok.
Mereka berkesimpulan bahwa pada umumnya sasaran kelompok dapat dihubungkan
dengan salah satu dari dua hal berikut: (1) pencapaian tujuan yaitu pencapaian
tujuan khusus dari kelompok; atau (2) pemeliharaan kelompok yaitu pemeliharaan
atau perkuatan kelompok itu sendiri.
Salah satu rancangan kepemimpinan yang lebih komprehensif di
kemukakan oleh Raplh M. Stogdill dan kawan-kawannya yang mengemukakan dua belas
dimensi kepemimpinan, yang dijabarkan dari komponen “orientasi sistem” dan
“orientasi person”.
Berorientasi
Sistem
|
Berorientasi
person
|
·
Mengutamakan
produksi melakukan desakan untuk hasil yang produktif
·
Pemberitahuan
struktur secara jelas menetapkan, perannya sendiri dan mengajak para pengikut
mengetahui apa yang diharapkan
·
Perwakilan
membicarakan dan bertindak sebagai wakil kelompok
·
Asumsi
peranah secara aktif melatih peranan kepemimpinan dari pada menyerahkan
kepemimpinan kepada yang lain
·
Persuasi
menggunakan keyakinan dan bukti secara efektif; menunjukan keyakinan yang
kuat
·
Orientasi ke
atas memelihara hubungan yang tamah dengan yang lebih tinggi, mempunyai
pengaruh terhaddap mereka, dan memperjuangkan status yang lebih tinggi
|
·
Toleransi
kebebasan mengizinkan anggota-anggota staf mengmbil inisiatif, keputusan, dan
tindakan
·
Toleransi
ketidaksesuaian dapat mentoleransi ketidakpastian dan penangguhan tanpa
merasa cemas atau bimbang
·
Konsiderasi/
perhatian memperhatikan kesenangan, kesehatan, kedudukan, dan kontribusi
pengikut
·
Tuntutan
ketentraman mendamaikan pertentangan-pertentangan dan mengurangi kekacauan
atau kebingungan terhadap sistem
·
Ketepatan
prakiraan memperlihatkan pengertian dan kemampuan memprakirakan hasil-hasil
secara tepat
·
Integrasi
memelihara kekompakan organisasi dan penyelesaian pertentangan-pertentangan
antar anggota
|
Dalam usahanya meng menggabungkan teori dan penelitian tentang
kepemimpinan, David G. Bowers dan Stanley E. Seashore mengusulkan empat dimensi
pokok dari struktur fundamental kepemimpinan, yaitu:
1. Bantuan (support) yaitu tingkah laki yang memperbesar perasaan berharga seseorang dan merasa dianggap penting.
2. Kemudahan interaksi yaitu tingkah laku yang memberanikan anggota-anggota kelompok untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang saling menyenangkan.
3. Pengutamaan tujuan yaitu tingkah laku yang merangsang antusiasme bagi penemu tujuan kelompok mengenal pencapaian prestasi yang baik.
4. Kemudahan bekerja yaitu tingkah laku yang membantu pencapaian tujuan dengan kegiatan-kegiatan seperti penetapan waktu, pengorganisasian, perencanaan dan penyediaan sumber-sumber seperti alat-alat, bahan-bahan dan pengetahuan teknis.
C. Gaya Kepemimpinan
Keberadaan pemimpin memegang peranan penting di dalam jalannya roda
organisasi, sesuai dengan perannya sebagai penunjuk arah dan tujuan di masa
depan (direct setter), agen perubahan (change agent),
negosiator (spokes person), dan sebagai pembina (coach). Namun,
secara tidak di sadari seorang pemimpin dalam melaksanakan perannya sering
menggunakan caranya sendiri. Dan cara-cara yang digunakannya merupakan
pencerminan dari sifat-sifat dasar kepribadian seorang pemimpin walaupun
pengertian ini tidak mutlak. Cara atau teknik seorang dalam menjalankan suatu
kepemimpinan tersebut antara lain:
1. Gaya Kepemimpinan Transformasional
Asumsi yang mendasari kepemimpinan transformasional adalah bahwa setiap
orang akan mengikuti seseorang yang dapat memberikan mereka inspirasi,
mempunyai visi yang jelas, serta cara dan energi yang baik untuk mencapai
sesuatu tujuan baik yang besar. Bekerjasama dengan seorang pemimpin dapat
memberikan suatu pengalaman yang berharga, karena pemimpin transformasional
biasanya akan selalu memberikan semangat dan energi positif terhadap segala hal
dan pekerjaan tanpa kita menyadarinya.
Pemimpin transformasional akan memulai segala sesuatu dengan visi,
yang merupakan suatu pandangan dan harapan kedepan yang akan dicapai bersama
dengan memadukan semua kekuatan, kemampuan dan keberadaan para pengikutnya.
Mungkin saja bahwa sebuah visi ini dikembangkan oleh para pemimpin itu sendiri
atau visi tersebut memang sudah ada secara kelembagaan yang sudah dibuat
dirumuskan oleh para pendahulu sebelumnya dan memang masih sahih dan selaras
dengan perkembangan kebutuhan dan tuntutan pada saat sekarang.
Pemimpin transformasional pada dasarnya memiliki totalitasnya
perhatian dan selalu berusaha membuat dan mendukung keberhasilan para
pengikutnya para pengikutnya. Tentu saja semua perhatian dan totalitas yang
diberikan pemimpin transformasional tidak akan berarti tanpa adanya komitmen
bersama dari masing-masing pribadi pengikut.
Konsep kepemimpinan Transformasional menurut Burn (dalam Yudhawati:
2005) dikembangkan melalui landasan teori tata tingkat kebutuhan dari Maslow.
Burn menjelaskan keterkaitan antara konsepkepemimpinan transformasional dan
transaksional dengan teori tata tingkat kebutuhan bawahannya lebih rendah
seperti kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, dan kebutuhan akan penghargaan
yang dapat terpenuhi dengan menggunakan gaya kepemimpinan transaksional.
Sedangkan kebutuhan lebih tinggi seperti harga diri dan aktualitas diri menurut
Killer (Yudhawati, 2005) hanya dimungkinkan ada dalam kepemimpinan
transformasional. Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pemimpin
trasformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral
dan strategis dalam membawa organisasi dalam mencapai tujuannya. pemimpin
transfornasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa
depan dengan bawaannya, serta mempertinggi kebutuhan bahwahan pada tingkat yang
lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Yamarino dan Bass (1990), pemimpin transformasional harus mampu
membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan
mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Bryman (1990),
pemimpin transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership),
sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (break
through leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpin semacam ini
mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap
individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent)
karakter diri individu-individu dalam organisasi dalam perbaikan organisasi,
melalui proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses dan
nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan relevan, dengan cara-cara yang
menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba untuk
merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin
dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang
mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai
hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai hasil-hasil yang
diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang “metanoica”,
dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mau menciptakan pergesaran
paradigma untuk mengembang praktik-praktik organisasi yang sekarang dengan yang
lebih baru dan lebih baru dan lebih relevan. Metanoia berasal dari kata Yunani
meta yang berarti perubahan, dan nous/ noos yang berarti pikiran.
Menerut Bass terdapat empat ciri yang dimiliki seorang pemimpin
sehingga memiliki kualitas transformasional adalah sebagai berkut. Menurut Bass
dan Avolio (Patty, 2001) ada empat aspek yang mendasari kepemimpinan
transformasional, yaitu:
a. Karisma (charisma)
Kepemimpinan
karismatik merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan menimbulkan
emosi-emosi yang kuat (Yuki, 1998) kepemimpinan karismatik berkaitan dengan
reaksi bawahannya terhadap pemimpin dan pada pemimpin. Pemimpin di
identifikasikan dengan dijadikan sebagai panutan oleh bawahan, di percaya, di
hormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut persepsi bawahan dapat
diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standar yang tinggi dan sasaran yang menantang
bagi bawahan (Bass, 1985). House (Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pemimpin
ikut merasa karismatik berdampak besar bagi para pengikutnya. Para pengikut
merasa bahwa keyakinan pemimpin benar, sehingga meningkatkan ketaatan pada diri
bawahan dalam menjalankan misinya. Pemimpin mempunyai kebutuhan akan kekuasaan
yang tinggi, pendirian yang kuat, rasa percaya diri yang tinggi dan keyakinan
terhadap nilai-nilai yang di anut, kesemuanya ini akhirnya berdampak pada
peningkatan kepercayaan para pengikut terhadap apa yang dikemukakan oleh
pemimpin tersebut.
Karisma
merupakan kekuatan pemimpin yang besar untuk memotivasi mitra kerjanya dalam
melaksanakan tugasnya Bawahan mempercayai atasan karena mempunyai pandangann
nilai dan tujuan yang dianggap benar, oleh karena itu pemimpin yang memiliki
karisma lebih besar akan mudah mempengaruhi dan mengarahkan mitra usahanya agar
bertindak sesuai dengan apa yang diinginginkan oleh pemimpinnya.
Pemimpin yang
berkarisma adalah seorang pemimpin yang dapat memperlihatkan visi, kemampuan
dan keahlian serta tindakan mendahulukan kepentingan perusahaan dan kepentingan
orang lain dari pada kepentingan pribadi. Pemimpin yang berkarisma dapat
dijadikan suri teladan, idola dan model bagi bawahnya.
b. Rangsangan Intelektual (intellectual stimulation)
Menurut Bass
(1985) rangsangan intelektual, berarti mengenalkan cara pemecahan masalah
secara cerdik, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir tentang
masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan yang kreatif. Rangsangan
intelektual berarti menghargai kecerdasan mengembangkan rasionalitas dan
pengambilan keputusan secara hati-hati.
Kemampuan sang
pemimpin untuk menstimuli pemikiran atau ide-ide bawahannya (intellectual
stimulation), pemimpin transformasional dalam bahsa sederhana addalah seorang
pemimpin yang cerdas sehingga ide-idenya atau analisanya mampu membuat
pencerahan intelektual pada mitra usahanya. Seperti diterangkan oleh Seltzer
dan Bass (1990) bahwa stimulasi intelektual ini, pemimpin merangsang
kreatifitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru
terhadap masalah lama. Menurut Bass (1985) melalui pendekatan ini bahwa di
dorong untuk berpikir tentang relevansi rasa, sistem nilai, kepercayaan,
harapan, dan bentuk organisasi yang ada saat ini. Bawahan juga di dorong
melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk
mengembangkan kemampuan diri, serta di dorong untuk menetapkan tujuan atau
sasaranya yang menantang. Rangsangan intelektual adalah dalam upaya pemimpin
meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi
bawahan untuk melihat persoalan tersebut melalui perspektif baru (Yuki, 1989).
Dengan ini maka
dibutuhkan pula pemimpin yang dengan sendirinya terus-menerus menjadi manusia
pembelajar. Schein (Bagus, 2001) mengatakan pemimpin dengan sendirinya adalah
seorang “peceptual leaner” atau pembelajar yang terus menerus yang tidak
kenal lelahsehingga pemimpin harus perseptif atau tanggap terhadap persoalan,
mampu memotivasi, memiliki kekuatan emosional dan menenangkan kecemasan,
mengubah asumsi budaya (mampu menjual visi dan konsep baru) dan mampu
menciptakan keterlibatan dan partisipasi serta mempelajari budaya baru.
Ukuran dan
efektifitas pemimpin adalah seberapa banyak kemampuan bawahan dan menyelesaikan
tugas tanpa kehadiran pemimpin (Bass dan Avolio, 1990). Bawahan belajar
memecahkan masalah dengan cara sendiri secara kreatif dan inovatif. Melalui
praktik intelektual ini, mitra kerja kita diberi kesempatan seluas-luasnya oleh
pemimpinya untuk bertindak secara kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan
masalahnya. Dengan kata lain bawahan diberi kesempatan oleh pemimpin untuk
bereksprresi diri mengembangkan diri.
c. Inspirasi (Inspiration)
Pemimpin
inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi dan
menginspirasi bawahannya yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan
yang tinggi dari bawahannya menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada
kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.
Pemimpin
inspirasional mampu mendorong bawahan untuk menetapkan suatu tujuan yang
menantang dengan standard yang tinggi. Adanya tujuan yang menantang inidi
harapkan akan mampu mendorong bawahan untuk memfokuskan pada usaha yang keras
dalam mencapai target tersebut, Pemimpin ispirasional mengembangkan suatu
pemecahan masalah dengan menggunakan simbol-simbol untuk mempermudah
pemecahannya. Selain itu dalam pemecahan masalah, seorang pemimpin harus
menunjukan kesan sebagai pemimpin. Pemimpin inspirasional mampu memberikan arti
yang jelas terhadap tindakan yang direncanakan, bersikap tenang dalam
menghadapi krisis, memberi penghargaan terhadap tindakan bawahan yang
berprestasi, menekankan pada persaingan yang sehat, memberikan gambaran
mengenai masa depan yang menarik dan dapat dicapai dan menjelaskan mengenai
langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut (Bass, 1990).
Pemimpin yang
inspirasional oleh Bass dan Avolio (Yuki, 1994) di artikan sebagai sejauh mana
seorang pemimpin mampu mengkominikasika suatu misi yang menarik, mampu
menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha mitra kerjanya dalam
memodelkan perilaku yang sesuai.
Perilaku
pemimpin yang inspirasional menurut Yuki dan Fleet (Bass, 1985) dapat
merangsang, antusiasme bawahan terhadap tugas kelompok dan mengatakan hal-hal
yang dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan
tugas dan mencapai tujuan kelompok. Masih menurut Yuki (1989) membangun kepercayaan diri
bawahan seperti itu merupakan elemen utama dari pemimpin yang inspirasional.
Keyakinan diri yang besar terhadap apa yang dilakukan akan menimbulkan motif
untuk berprestasi serta loyalitas dan usaha yang melebihi biasanya.
d. Perhatian Individual (Individualized Consideration)
Perhatian
secara individual merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh
kekuasaandengan bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara
individual dan dukungan secara pribadi kepada bawahannya. Menurut Bass (1985)
pertimbangan individual berarti cara pemimpin memperoleh kekuasaan dengan
bertindak sebagai pelatih, guru dan pembimbing yang memberikan perhatian secara
individual, memberi saran dan memberikan perhatian secara individual dan
dukungan kepada anggotanya secara pribadi. Lebih lanjut Bass (1990) menemukakan
pertimbangan individu berarti memberi perhatian secara personal, memperlakukan
bawahan secara individu, memberi saran dan memberikan bimbingan. Menurut Bass
(1997) pemimpin melakukan hubungan dengan bawahan secara individual,
mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan dan aspirasi individu, mendengarkan
dengan penuh perhatian pengembangan jangka panjang, menasehati, mengajar
membina dan melatih.
Avolio
(Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pendelegasian wewenang merupakan fokus dari
pertimbangan individual. Pendelegasian sebagai tugas untuk diselesaikan
bahwahan merupakan tantangan kerja bagi bawahan dan sekaligus memberi
kesempatan kepada bawahan untuk belajar. Pendelegasian sebagai wewenang kepada
bawahan menurut Bass (1990) dapat melalui orientasi terhadap pengembangan bawahan,
orientasi terhadap individu dan mentoring. Perhatian yang berorientasi pada
pengembangan bawahan di tunjukan melalui pendelegasian sebagai tugas kepada
bawahan. Perhatian yang berorientasi kepada individu ditunjukan dengan memberi
dukungan dan memperlakukan bawahan secara individu. Dengan demikian pemimpin
dapat melihat adanya perbedaan yang terdapat pada bawahannya atau mitra
kerjanya. Hal ini akan mempermudah pemimpin dalam memberikan perlakuan terhadap
masing-masing bawahannya, Sedangkan mentoring merupakan bentuk perhatian yang
individual yang ditunjukan melalui konsultasi atasan kepada bawahan.
Perhatian
seorang atasan kepada bawahannya merupakan kewajiban, karena sebagai figur
pemimpin dituntuk untuk senantiasa bisa memberikan bimbingan dan saran yang
diperlukan bagi perkembangan bawahannya. Pemimpin transformasional membangkitka
rasa hormat dan pengabdian dari dalam diri tiap-tiap orang menyediakan waktu
untuk menyatakan bahwa mereka itu penting.
Paragdima
baru dari kepemimpinan transformasional mengangkat tujuh prinsip untuk
menciptakan kepemimpinan transformasional yang sinergis sebagaimana dibawah ini
(Erik Ress: 2001):
1) Simplifikasi, keberhasilan dari kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan menjadi cermin dan tujuan bersama. Kemampuan serta keterampilan dalam mengungkapkan visi secara jelas, praktis dan tentu saja transformasional yang dapat menjawab ”kemana kita akan melangkah?” menjadi hal pertama yang penting untuk kita implementasikan.
2) Motivasi, kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi yang sudah di jelaskan adalah hal kedua yang perlu kita lakukan. Pada saat pemimpin transformasional dapat menciptakan suatu sinergitas di dalam organisasi, berarti seharusnya dia dapat pula mengoptimalkan, memotivasi dan memberi energi kepada setiap pengikutnya. Praktisnya dapat saja berupa tugas atau pekerjaan yang betul-betul menantang serta memberikan peluang bagi mereka untuk terlibat dalam suatu proses kreatif baik dalam hal memberikan usulan ataupun mengambil keputusan dalam pemecahan masalah, sehingga hal ini pula akan memberikan nilai tambah bagi mereka sendiri.
3) Fasilitas, dalam pengertian kemampuan untuk secara kelembagaan, kelompok ataupun individual. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual. dari setiap orang yang terlibat di dalamnya.
No comments:
Post a Comment