- Pendidikan memang sangat penting bagi kehidupan kita, untuk itu kita harus menuntut ilmu sampai akhir hayat, tentunya ilmu-ilmu yang bermanfaat positif bagi kita dan orang lain. Dengan media Blog ini saya berbagi ilmu pengetahuan yang tentunya dapat menambah wawasan kita semua yang membaca dan memahaminya. Jika teman-teman ingin mempunyai filenya dapat klik tulisan yang digaris bawah berikut ini:
- Karakteristik, Manifestasi, dan Ragam Belajar
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Meskipun belajar secara
teoritis belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku, namun tidak
semua perubahan tingkah laku organisme dapat dianggap belajar. Perubahan yang
timbul karena proses belajar sudah tentu memiliki ciri-ciri perwujudan yang
khas. Selanjutnya, dalam bab ini selain karakteristik, manifestasi dan
pendekatan belajar, jenis-jenis belajar dan hal-hal yang dapat mempengaruhi
kegiatan belajar siswa juga akan diuraikan secara singkat.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana Karakteristik Perubahan Hasil Belajar?
2.
Apasaja Manifestasi Perilaku Belajar?
3.
Apasaja Ragam-Ragam Belajar?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui bagaimana Karakteristik Perubahan Hasil
Belajar.
2.
Mengetahui apasaja Manifestasi Perilaku Belajar.
3.
Mengetahui apasaja Ragam-Ragam Belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
Karakteristik, Manifestasi, dan Ragam Belajar
A. KARAKTERISTIK
PERUBAHAN HASIL BELAJAR
Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh
ciri-ciri perubahan yang
spesifik. Karakteristik perilaku belajar ini dalam beberapa pustaka rjukan,
antara lain Psikologi Pendidikan oleh Surya (1982), disebut juga sebagai
prinsip-prinsip belajar. Diantara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi
karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah:
1)
perubahan itu intensional;
2)
perubahan itu positif dan aktif;
3)
perubahan itu efektif dan fungsional.
1.
Perubahan Intensional
Perubahan yang terjadi
dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktek yang dilakukan
dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan.
Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya
perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan
dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan
tertentu, keterampilan dan seterusnya. Sehubungan dengan itu, perubahan yang
diakibatkan mabuk, gila, dan lelah tidak termasuk dalam karakteristik belajar,
karena individu yang bersangkutan tidak menyadari atau tidak menghendaki
keberadaannya.
Disamping perilaku belajar
itu menghendaki perubahan yang disadari, ia juga diarahkan pada tercapainya
perubahan tersebut. Jadi, jika seorang siswa belajar bahasa Inggris umpamanya,
maka sebelumnya ia telah menetapkan taraf kemahiran yang disesuaikan dengan
tujuan pemakaiannya. Penetapan ini misalnya, apakah bahasa asing tersebut akan
ia gunakan untuk keperluan studi ke luar negeri ataukah untuk sekedar bisa
membaca teks-teks atau literatur berbahasa Inggris.
Namun demikian, perlu pula
dicacat bahwa kesengajaan belajar itu, menurut Anderson (1990) tidak penting,
yang penting cara mengelola informasi yang diteima siswa pada waktu peristiwa
belajar terjadi. Di samping itu, kenyataan sehari-hari juga menunjukkan bahwa tidak
semua kecakapan yang kita peroleh merupakan hasil kesengajaan belajar yang kita
sadari.
Sebagai contoh, kebiasaan
bersopan santun di meja makan dan
bertegur sapa dengan orang lain seperti dengan guru dan orang-orang lain di
sekitar kita tanpa disengaja dan disadari. Begitu juga beberapa kecakapan
tertentu yang kita peroleh dari pengalaman dan praktik sehari-hari, belum tentu
kita pelajari dengan sengaja. Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa
perubahan intensional tersebut bukan “harga mati” yang harus dibayar oleh anda
dan siswa.
2.
Perubahan Positif-Aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat
positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan
harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan
penambahan, yakni diperolehnya sesuatu yang baru (seperti pemahaman dan
keterampilan baru) yang lebih baik daripada apa yang telah ada sebelumnya.
Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena
proses kematangan (misalnya, bayi yang bisa merangkak setelah bisa duduk),
tetapi kerena usaha siswa itu sendiri.
3.
Perubahan
Efektif-Fungsional
Perubahan yang timbul
karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya, perubahan
tersebut membawa pengaruh, makna, dan manfaat tertentu bagi siswa. Selain itu,
perubahan dalam proses belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif
menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat
direproduksi dan dimanfaatkan. Perubahan fungsional dapat diharapkan memberi
manfaat yang luas misalnya ketika siswa menempuh ujian dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan kehidupan sehari-hari dalam mempertahankan kelangsungan
hidupnya.
Selain itu, perubahan yang efektif dan fungsional
biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan-perubahan positif
lainnya. Sebagai contoh, jika seorang siswa belajar menulis, maka disamping
akan mampu merangkaikan kata dan kalimat dalam bentuk tulisan, ia juga akan
memperoleh kecakapan lainnya seperti membuat catatan, mengarang surat, dan
bahkan menyusun karya sastra atau karya ilmiah.
B.
MANIFESTASI PERILAKU
BELAJAR
Dalam hal memahami arti belajar dan esensi perubahan
karena belajar, para ahli sependapat atau sekurang-kurangnya terdapat titik
temu di antara mereka mengenai hal-hal yang prinsipal. Akan tetapi, mengenai
apa yang dipelajari siswa dan bagaimana perwujudan atau manifestasinya, agaknya
masih tetap merupakan teka-teki yang sering menimbulkan silang pendapat yang
cukup tajam di antara para ahli itu. Meskipun demikian, berikut ini akan
diuraikan pendapat sekelompok ahli yang relatif lebih lengkap mengenai perilaku
belajar. Pemakaian pendapat sekelompok ahli ini sudah barang tentu tidak
berarti mengecilkan pendapat kelompok ahli lainnya.
Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya
lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut: 1) kebiasaan; 2)
keterampilan; 3) pengamatan; 4) berpikir positif dan daya ingat; 5) berpikir
rasional dan kritis; 6) sikap; 7) inhibisi; 8) apresiasi; 9) tingkah laku
efektif. Mengenai timbulnya sikap dan kesanggupan yang konstruktif, juga
berpikir kritis dan kreatif, seperti yang dikemukakan sebagaian ahli, tidak
diuraikan secara eksplisit mengingat keterpaduan perwujudan-perwujudan tersebut
dalam sembilan perwujudan di atas.
1.
Manifestasi Kebiasaan
Setiap siswa yang telah
mengalami proses belajar, kebiasaan-kebiasaannya akan tampak berubah. Menurut
Burghardt (1973), kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan
respon dengan menggunakan stimulasi yang berulan-ulang. Dalam proses belajar,
pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Karena
proses penyusutan/ pengurangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku baru
yang relatif menetap dan otomatis.
Kebiasaan ini terjadi karena prosedur pembiasaan seperti
dalam clasical dan operant conditioning. Contoh, siswa yang
belajar bahasa secara berkali-kali menghindari kenderungan penggunaan kata atau
struktur yang keliru, akhirnya akan terbiasa dengan penggunaan bahasa secara
baik dan benar. Jadi, berbahasa dengan cara yang baik dan benar itulah
perwujudan perilaku belajar siswa tadi.
2.
Manifestasi Keterampilan
Keterampilan ialah
kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular)
yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik,
olahraga, dan sebagainya. Meskipun sifatnya motorik, namun keterampilan itu
memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. Dengan
demikian, siswa yang melakukan gerakan motorik dengan gerakan koordinasi dan
kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak terampil.
Di samping itu, menurut
Reber (1988), keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku
yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk
mencapai hasil tertentu. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik
melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif.
Konotasinya pun luas sehingga sampai pada mempengaruhi atau mendayagunakan
orang lain. Artinya, orang yang mampu mendayagunakan orang lain secara tepat
juga dianggap sebagai orang yang terampil.
3.
Manifestasi Pengamatan
Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan
memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan
telinga. Berkat pengalaman belajar seorang siswa akan mampu mencapai pengamatan
yang benar obyektif sebelum mencapai pengertian. Pengamatan yang salah akan
mengakibatkan timbulnya pengertian yang salah pula. Sebagai contoh, seorang
anak yang baru pertama kali mendengarkan radio akan mengira bahwa penyiar
benar-benar berada dalam kotak bersuara itu. Namun melalui proses belajar,
lambat-laun akan diketahuinya juga bahwa yang ada dalam radio tersebut hanya
suaranya, sedangkan penyiarnya berada jauh di studio pemancar.
4.
Manifestasi Berpikir
Asosiatif dan Daya Ingat
Secara sederhana, berpikir
asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya.
Berpikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan
dengan respon. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa kemampuan siswa untuk
melakukan hubungan asosiatif yang benar amat dipengaruhi oleh tingkat
pengertian atau pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar. Sebagai contoh,
siswa yang mampu menjelaskan arti penting tanggal 12 Rabiul Awal. Kemampuan
siswa tersebut dalam mengasosiasikan tanggal bersejarah itu dengan hari ulang
tahun (maulid) Nabi Muhammad SAW hanya bisa didapat apabila ia telah
mempelajari riwayat hidup beliau.
Di samping itu, daya ingat
pun merupakan perwujudan belajar, sebab merupakan unsur pokok dalam berpikir
asosiatif. Jadi, siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan
bertambahya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam memori, serta
meningkatnya kemampuan menghubungkan materi tersebutdenga situasi atau stimulus
yang sedang ia hadapi.
5.
Manifestasi Berpikir
Rasional dan Kritis
Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku
belajar terutama yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Pada umumnya siswa
yang berpikir rasional akan menggunakan prisip-prinsip dan dasar-dasar
pengertian dalam menjawab pertanyaan “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Dalam berpikir rasional, siswa dituntut
menggunakan logika (akal sehat) untuk menentukan sebab-akibat, menganalisis,
menarik kesimpulan-kesimpulan, dan bahkan menciptakan hukum-hukum (kaidah
teoritis) dan ramalan-ramalan. Dalam hal berpikir kritis, siswa dituntut
menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk meneguji keandalan
gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan (Reber,
1988).
6. Manifestasi
Sikap
Dalam arti yang sempit sikap adalah pandangan
atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987), sikap (attitude) adalah
kecenderungan yang relative menetap untuk beraksi dengan cara baik atau buruk
terhadap orang atau barang tertentu. Dengan demikian, pada prinsipnya sikap itu
dapat kita anggap suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara
tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan
munculnya kecenderungan-kecenderungan beru yang telah berubah (lebih maju dan
lugas) terhadap suatu obyek, tata nilai, peristiwa, dan sebagainya.
7. Manifestasi
Inhibisi
Secara ringkas, inhibisi adalah upaya
pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respons tertentu karena adanya
proses respons lain yang sedang berlangsung (Reber, 1988). Dalam hal belajar,
yang dimaksud dengan inhibisi ialah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau
menghentikan tindakan yang tidak perlu, lalu memilih atau melakukan tindakan
lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya.
Kemampuan siswa dalam melakukan inhibisi pada
umumnya diperoleh lewat proses belajar. Oleh sebab itu, makna dan perwujudan
perilaku belajar seorang siswa akan tampak pula dalam kemampuannya melakukan
inhibisi ini. Contoh, seorang siswa yang telah sukses mempelajari bahaya
alcohol akan menghindari membeli minuman keras. Sebagai gantinya ia membeli
minuman sehat, susu misalnya.
8. Manifestasi
Apresiasi
Pada dasarnya, apresiasi berarti suatu
pertimbangan (judgment) mengenai arti penting atau nilai sesuatu (Chaplin,
1982). Dalam penerapannya, apresiasi sering sering diartikan sebagai
penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda baik abstrak maupun konkret
yang memiliki nilai luhur. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang pada
umumnya ditujukan pada karya-karya seni budaya seperti, seni sastra, seni
music, seni lukis, drama, dan sebagainya.
Tingkat apresiasi seorang siswa terhadap nilai
sebuah karya sangat bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Sebagai
contoh, jika seorang siswa telah mengalami proses belajar agama secara mendalam
maka tingkat apresiasinya terhadap nilai seni baca Al-Qur’an dan kaligrafi akan
mandalam pula. Dengan demikian, pada dasarnya seorang siswa baru akan memiliki
apresiasi yang memadai terhadap objek tertentu (misalnya kaligrafi) apabila
sebelumnya ia telah mempelajari materi yang berkaitan dengan objek yang dianggap
mengandung nilai penting dan indah tersebut.
9. Manifestasi
Tingkah Laku Afektif
Tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang
menyangkut keanekaragaman perasaan, seperti takut, marah, sedih, gembira,
kecewa, senang, benci, was-was, dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak
terlepas dari pengaruh pengalaman belajar. Oleh karenanya, ia juga dapat
dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.
Seorang siswa, misalnya, dapat dianggap sukses
secara efektif dalam belajar agama apabila ia telah menyenangi dan menyadari
dengan ikhlas kebenaran ajaran agama yang ia pelajari, lalu menjadikannya
sebagai “sistem nilai diri.” Kemudian, pada gilirannya ia menjadikan sistem
nilai ini sebagai penuntun hidup, baik dikala suka maupun duka (Darajat, 1985).
C. RAGAM-RAGAM
BELAJAR
Dalam proses belajar dikenal adanya
bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan
lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan
perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul
dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga
bermacam-macam.
1. Ragam
Abstrak
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan
cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan
pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang
abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip,
konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika,
kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama
seperti tauhid.
2. Ragam
Keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan
menggunakan gerakan-gerakan motoric yakni yang berhubungan dengan urat-urat
syaraf dan otot-otot/ neuromuscular. Tujuannya adalah memperoleh dan
menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini
latihan-latihan intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk belajar dalam
jenis ini misalnya belajar olahraga, music, menari, ,melukis, memperbaiki
benda-benda elektronik, dan juga sebagian materi pelajaran agama, seperti
ibadah salat dan haji.
3. Ragam
Sosial
Belajar sosial pada dasarnya adalah belajar
memahami masalah-masalah dan tekni-teknik untuk memecahkan masalah tersebut.
Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan
masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, masalah persahabatan, masalah
kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat kemasyarakatan.
Selain itu, belajar social juga bertujuan untuk
mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang
kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara
berimbang dan proporsional. Bidang-bidang studi yang termasuk bahaan pelajaran
sosial antara lain pelajaran agama dan PKn serta pelajaran lainnya yang
menunjang pendidikan karakter yang akhir-akhir ini sedang digalakkan.
4. Ragam
Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah
belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis,
logis, teratur, dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan
kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas.
Untuk itu, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan
generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan.
Dalam hal ini, hampir semua bidang studi dapat
dijadikan sarana belajar pemecahan masalah. Untuk keperluan ini, guru
(khususnya yang mengajar eksakta, seperti matematika dan IPA) sangat dianjurkan
menggunakan model dan strategi mengajar yang berorientasi pada cara pemecahan
masalah (Lawson, 1991).
5. Ragam
Rasional
Belajar rasional ialah belajar dengan
menggunakan kemapuan berpikir secara logis dan sistematis (sesuai dengan akal sehat).
Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan
prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini sangat erat kaitannya
dengan belajar pemecahan masalah. Dengan belajar rasional, siswa diharapkan
memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan
masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan
sistematis (Reber, 1988).
Bidang-bidang studi yang dapat digunakan
sebagai sarana belajar rasional sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar
pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak memberi tekanan khusus
pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang-bidang studi noneksakta
pun dapat memberi efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar
rasional.
6. Ragam Kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan
kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada.
Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri teladan dan pengalaman
khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh
sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif
dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).
Selain itu, arti tepat dan positif di atas
ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang
bersifat religious maupun tradisional dan kultural. Belajar kebiasaan akan
lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang
dimaksud oleh Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional/ 1989 Bab IV Pasal 10
(4). Belajar kebiasaan juga dapat diberlakukan untuk menopang pendidikan
karakter (seperti karakter amanah, disiplin, kerja keras) yang belakangan ini
sedang gencar dikampanyekan agar dilaksanakan di sekolah-sekolah.
7. Ragam Apresiasi
Belajar apresiasi adalah belajar
mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu objek.
Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective
skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai
objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya.
Bidang-bidang studi yang dapat menunjang
tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan
tangan (prakarya), kesenian, dan menggambar. Selain bidang-bidang studi ini,
bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan
apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
8. Ragam
Pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi) ialah belajar
dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan
tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar
terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan
investigasi dan eksperimen (Reber, 1988). Tujuan belajar pengetahuan ialah agar
siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan
tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam
mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan
penelitian lapangan.
Contoh: kegiatan siswa dalam bidang studi
fisika mengenai “gerak” menurut hukum Newton 1. Dalam hal ini siswa melakukan
eksperimen untuk membuktikan bahwasetoap benda tetap diam atau bergerak secara
beraturan, kecuali kalau ada gaya luar yang mempengaruhinya. Cotoh lainnya,
kegiatan siswa dalam bidang studi biologi mengenai protoplasma, yakni zat hidup
yang ada pada tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dalam hal ini siswa melakukan
investigasi terhadap senyawa organic yang terdapat dalam protoplasma yang
meliputi: karbohidrat, lemak, protein, dan asam nukleat.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Ciri khas perubahan dalam belajar meliputu perubahab yang bersifat: 1) intensional (disengaja); 2) positif dan aktif (bermanfaat dan atas hasil usaha sendiri); 3) efektif dan fungsional (berpengaruh dan mendorong timbulnya perubahan baru). 2. Manifestasi perilaku belajar tampak dalam: 1) kebiasaan seperti siswa belajar bahasa secara berkali-kali menghindari kenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, akhirnya akan terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar; 2) keterampilan seperti menulis dan berolahraga yang meskipun sifatnya motorik keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi; 3) pengamatan yakni proses meneremina, menafsirkan, dan memberi agrti rangsangan yangmasuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga siswa mampu mencapai pengertian yang benar; 4) berpikir asosiatif yakni berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat; 5) berpikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why); 6) sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan; 7) inhibisi (menghindari hal yang mubazir); 8) apresiasi (menghargai karya-karya bermutu); 9)tingkah laku afektif. 3. Jenis-jenis belajar meliputu belajar: 1) abstrak; 2) keterampilan; 3) sosial; 4) pemecahan masalah; 5) rasional; 6) kebiasaan; 7) apresiasi; 8)pengetahuan/ studi
1. Ciri khas perubahan dalam belajar meliputu perubahab yang bersifat: 1) intensional (disengaja); 2) positif dan aktif (bermanfaat dan atas hasil usaha sendiri); 3) efektif dan fungsional (berpengaruh dan mendorong timbulnya perubahan baru). 2. Manifestasi perilaku belajar tampak dalam: 1) kebiasaan seperti siswa belajar bahasa secara berkali-kali menghindari kenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, akhirnya akan terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar; 2) keterampilan seperti menulis dan berolahraga yang meskipun sifatnya motorik keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi; 3) pengamatan yakni proses meneremina, menafsirkan, dan memberi agrti rangsangan yangmasuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga siswa mampu mencapai pengertian yang benar; 4) berpikir asosiatif yakni berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat; 5) berpikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why); 6) sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan; 7) inhibisi (menghindari hal yang mubazir); 8) apresiasi (menghargai karya-karya bermutu); 9)tingkah laku afektif. 3. Jenis-jenis belajar meliputu belajar: 1) abstrak; 2) keterampilan; 3) sosial; 4) pemecahan masalah; 5) rasional; 6) kebiasaan; 7) apresiasi; 8)pengetahuan/ studi
DAFTAR PUSTAKA
Syah, Muhibbin. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta:
Rajawali Pers
No comments:
Post a Comment