Tuesday, 17 February 2015

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

  • Pada kesempatan ini saya berbagi pengetahuan mengenai "Kepemimpinan Pendidikan", kita dapat melihat pemimpin yang baik itu seperti apa. Dengan ini semoga wawasan kita bertambah luas. Ok langsung saja baca dan pahami dari materi berikut ini. Dan untuk filenya dapat di download di bawah ini:



KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN


A. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah salah satu faktor yang menentukan kesuksesan dalam sebuah manajemen pendidikan. Untuk itu perlu kiranya dibahas tentang pengertian kepemimpinan, teori kepemimpinan, tipe kepemimpinan, pengertian manajemen, dan kepemimpinan sehubungan dengan manajemen pendidikan. Mengapa perlu ada pemimpin? Pemimpin diperlukan sedikitnya terdapat empat macam alasan, yaitu, yaitu (a) karena banyak orang memerlukan figur pemimpin, (b) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya, (c) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelompoknya, dan (d) sebagai tempat untuk meletakan kekuasaan. Untuk mengetahui definisi kepemimpinan maka lebih baik kita mengetahui dahulu konsep dari kepemimpinan yang dilihat dari sejarah perkembangannya, yaitu:
1. Suatu kemampuan yang menganggap bahwa kepimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin. Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai traits within the individual leader. Dimana konsep ini merupakan konsep kepemimpinan yang paling tua dan paling lama dianut orang.
2. Konsep yang kedua memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok (funtion of the group). Menurut konsep ini, sukses tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang memimpin.
3. Konsep yang ketiga adalah konsep yang didasarkan atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga terhadap politik dan ekonomi. Menurut konsep ini kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi. Konsep yang ketiga ini menunjukan bahwa, betapa pun seorang pemimpin telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsinya sebagai anggota kelompok, sukses-tidaknya kepemimpinanya masih ditentukan pula oleh situasi yang selalu berubah-ubah. Adanya perubahan dan perkembangan tersebut dituntut adanya perubahan dan perkembangan dalam sifat-sifat, kemampuan, dan gaya kepemimpinan yang diperlukan.
Dari konsep tersebut diatas maka dapat ditarik suatu definisi kepemimpinan yang dipaparkan oleh beberapa ahli, antara lain:
a. Koontz & O’donnel, mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan sekelompoknya.
b. Wexley & Yuki (1977), kepemimpinan mengandung arti mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka.
c. George R. Terry, kepemimpinan adalah mempengaruhi orang-orang untuk bersedia berusaha mencapai tujuan bersama.
d. Fiedler (1967), kepemimpinan adalah pada dasarnya pola hubungan antara individu-individu yang mengandung wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan.
e. John Pfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan dan memotivasi orang-orang dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di kehendaki.
f. Davis (1977), mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat.
g. Locke et.al (1991), mendefinisan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama. Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari pola hubungan, kemampuan mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang lain.
h. Amitai Etzioni, kepemimpinan adalah kekuatan (power) yang didasarkan atas tabiat/ watak seseorang yang memiliki kekuasaan lebih, biasanya bersifat normatif.
i. Daniel Katz and Robert I. Kahn, hakikat kepemimpinan organisasi adalah penambahan pengaruh (influential increment) terhadap dan tersebut pelaksanaan mekanism pengarahan-pengarahan rutin dari suatu organisasi
j. James Lipham, kepemimpinan adalah permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi.

Dari beberapa definisi tersebut, ada beberapa unsur pokok yang mendasari atau sudut pandang dan sifat-sifat dasar yang ada dalam merumuskan definisi kepemimpinan yaitu:
1) Unsur-unsur yang mendasari
Unsur-unsur yang mendasari kepemimpinan dari definisi-definisi yang dikemukakan tersebut, adalah: (1) Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/ bawahan). (2) Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok. (3) Adanya unsur kerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2) Sifat dasar kepemimpinan
Sifat-sifat yang mendasari kepemimpinan adalah kecakapan memimpin. Paling tidak, dapat dikatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsur kecakapan pokok, yaitu: (1) Kecakapan memahami individual, artinya mengetahui bahwa setiap manusia mempunyai daya motivasi yang berbeda pada berbagai saat dan keadaan yang berlainan. (2) Kemampuan untuk menggugah semangat dan memberi inspirasi. (3) Kemampuan untuk melakukan tindakan dalam suatu cara yang dapat mengembangkan suasana (iklim) yang mampu memenuhi dan sekaligus menimbulkan dan mengendalikan motivasi-motivasi (Tantangan M. Amirin, 1983:15). Pendapat lain, menyatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsur pokok yang mendasarinya yaitu: (1) Seseorang pemimpin harus memiliki kemampuan persepsi sosial (sosial perception). (2) Kemampuan berpikir abstrak (ability in abstrakct thinking). (3) Memiliki kestabilan emosi (emosional stability).

Kemudian dari definisi Locke, yang dikemukakan tersebut, dapat dikategorikan kepemimpinan menjadi tiga elemen dasar, yaitu:
a) Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relation consept), artinya kepemimpinan hanya ada dalam relasi dengan orang lain, maka jika tidak ada pengikut atau bawahan, tak ada pemimpin. Dalam definisi Locke, tersirat premis bahwa para pemimpin yang efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berelasi dengan para pengikut mereka.
b) Kepemimpinan merupakan suatu proses, artinya proses kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritasatau posisi jabatan saja, karena dipandang tidak cukup memadai untuk membuat seseorang menjadi pemimpin, artinya seorang pemimpin harus melakukan sesuatu. Maka menurut Burns (1978), bahwa untuk menjadi pemimpin seseorang harus dapat mengembangkan motivasi pengikut secara terus menerus dan mengubah perilaku mereka menjadi responsif.
c) Kepemimpinan berarti mempengaruhi orang-orang lain untuk mengambil tindakan, artinya seorang pemimpin harus berusaha mempengaruhi pengikutnya dengan berbagai cara, seperti menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, restruksisasi organisasi dan mengkomunikasikan sebuah visi. Dengan demikian, seorang pemimpin dapat dipandang efektif apabila dapat membujuk para pengikutnya untuk meninggalkan kepentingan pribadi meeka demi keberhasilan organisasi Bass, (1995. Locke et.al., 1991,. dalam Mochammad Teguh, dkk., 2001: 69).

B. Dimensi-dimensi Kepemimpinan
Berdasarkan penemuan-penemuan dalam penelitian Dorwin Cartwrigt dan Alvin Zander mengemukakan kepemimpinan dipandang dari dua fungsi kelompok. Mereka berkesimpulan bahwa pada umumnya sasaran kelompok dapat dihubungkan dengan salah satu dari dua hal berikut: (1) pencapaian tujuan yaitu pencapaian tujuan khusus dari kelompok; atau (2) pemeliharaan kelompok yaitu pemeliharaan atau perkuatan kelompok itu sendiri.
Salah satu rancangan kepemimpinan yang lebih komprehensif di kemukakan oleh Raplh M. Stogdill dan kawan-kawannya yang mengemukakan dua belas dimensi kepemimpinan, yang dijabarkan dari komponen “orientasi sistem” dan “orientasi person”.
Berorientasi Sistem
Berorientasi person
·        Mengutamakan produksi melakukan desakan untuk hasil yang produktif

·        Pemberitahuan struktur secara jelas menetapkan, perannya sendiri dan mengajak para pengikut mengetahui apa yang diharapkan

·        Perwakilan membicarakan dan bertindak sebagai wakil kelompok

·        Asumsi peranah secara aktif melatih peranan kepemimpinan dari pada menyerahkan kepemimpinan kepada yang lain

·        Persuasi menggunakan keyakinan dan bukti secara efektif; menunjukan keyakinan yang kuat

·        Orientasi ke atas memelihara hubungan yang tamah dengan yang lebih tinggi, mempunyai pengaruh terhaddap mereka, dan memperjuangkan status yang lebih tinggi

·        Toleransi kebebasan mengizinkan anggota-anggota staf mengmbil inisiatif, keputusan, dan tindakan

·        Toleransi ketidaksesuaian dapat mentoleransi ketidakpastian dan penangguhan tanpa merasa cemas atau bimbang

·        Konsiderasi/ perhatian memperhatikan kesenangan, kesehatan, kedudukan, dan kontribusi pengikut

·        Tuntutan ketentraman mendamaikan pertentangan-pertentangan dan mengurangi kekacauan atau kebingungan terhadap sistem

·        Ketepatan prakiraan memperlihatkan pengertian dan kemampuan memprakirakan hasil-hasil secara tepat

·        Integrasi memelihara kekompakan organisasi dan penyelesaian pertentangan-pertentangan antar anggota

Dalam usahanya meng menggabungkan teori dan penelitian tentang kepemimpinan, David G. Bowers dan Stanley E. Seashore mengusulkan empat dimensi pokok dari struktur fundamental kepemimpinan, yaitu:
1. Bantuan (support) yaitu tingkah laki yang memperbesar perasaan berharga seseorang dan merasa dianggap penting.
2. Kemudahan interaksi yaitu tingkah laku yang memberanikan anggota-anggota kelompok untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang saling menyenangkan.
3. Pengutamaan tujuan yaitu tingkah laku yang merangsang antusiasme bagi penemu tujuan kelompok mengenal pencapaian prestasi yang baik.
4. Kemudahan bekerja yaitu tingkah laku yang membantu pencapaian tujuan dengan kegiatan-kegiatan seperti penetapan waktu, pengorganisasian, perencanaan dan penyediaan sumber-sumber seperti alat-alat, bahan-bahan dan pengetahuan teknis.

C. Gaya Kepemimpinan
Keberadaan pemimpin memegang peranan penting di dalam jalannya roda organisasi, sesuai dengan perannya sebagai penunjuk arah dan tujuan di masa depan (direct setter), agen perubahan (change agent), negosiator (spokes person), dan sebagai pembina (coach). Namun, secara tidak di sadari seorang pemimpin dalam melaksanakan perannya sering menggunakan caranya sendiri. Dan cara-cara yang digunakannya merupakan pencerminan dari sifat-sifat dasar kepribadian seorang pemimpin walaupun pengertian ini tidak mutlak. Cara atau teknik seorang dalam menjalankan suatu kepemimpinan tersebut antara lain:
1. Gaya Kepemimpinan Transformasional
Asumsi yang mendasari kepemimpinan transformasional adalah bahwa setiap orang akan mengikuti seseorang yang dapat memberikan mereka inspirasi, mempunyai visi yang jelas, serta cara dan energi yang baik untuk mencapai sesuatu tujuan baik yang besar. Bekerjasama dengan seorang pemimpin dapat memberikan suatu pengalaman yang berharga, karena pemimpin transformasional biasanya akan selalu memberikan semangat dan energi positif terhadap segala hal dan pekerjaan tanpa kita menyadarinya.
Pemimpin transformasional akan memulai segala sesuatu dengan visi, yang merupakan suatu pandangan dan harapan kedepan yang akan dicapai bersama dengan memadukan semua kekuatan, kemampuan dan keberadaan para pengikutnya. Mungkin saja bahwa sebuah visi ini dikembangkan oleh para pemimpin itu sendiri atau visi tersebut memang sudah ada secara kelembagaan yang sudah dibuat dirumuskan oleh para pendahulu sebelumnya dan memang masih sahih dan selaras dengan perkembangan kebutuhan dan tuntutan pada saat sekarang.
Pemimpin transformasional pada dasarnya memiliki totalitasnya perhatian dan selalu berusaha membuat dan mendukung keberhasilan para pengikutnya para pengikutnya. Tentu saja semua perhatian dan totalitas yang diberikan pemimpin transformasional tidak akan berarti tanpa adanya komitmen bersama dari masing-masing pribadi pengikut.
Konsep kepemimpinan Transformasional menurut Burn (dalam Yudhawati: 2005) dikembangkan melalui landasan teori tata tingkat kebutuhan dari Maslow. Burn menjelaskan keterkaitan antara konsepkepemimpinan transformasional dan transaksional dengan teori tata tingkat kebutuhan bawahannya lebih rendah seperti kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, dan kebutuhan akan penghargaan yang dapat terpenuhi dengan menggunakan gaya kepemimpinan transaksional. Sedangkan kebutuhan lebih tinggi seperti harga diri dan aktualitas diri menurut Killer (Yudhawati, 2005) hanya dimungkinkan ada dalam kepemimpinan transformasional. Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pemimpin trasformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi dalam mencapai tujuannya. pemimpin transfornasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawaannya, serta mempertinggi kebutuhan bahwahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Yamarino dan Bass (1990), pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Bryman (1990), pemimpin transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership), sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (break through leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpin semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi dalam perbaikan organisasi, melalui proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan relevan, dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang “metanoica”, dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mau menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembang praktik-praktik organisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih baru dan lebih relevan. Metanoia berasal dari kata Yunani meta yang berarti perubahan, dan nous/ noos yang berarti pikiran.
Menerut Bass terdapat empat ciri yang dimiliki seorang pemimpin sehingga memiliki kualitas transformasional adalah sebagai berkut. Menurut Bass dan Avolio (Patty, 2001) ada empat aspek yang mendasari kepemimpinan transformasional, yaitu:
a. Karisma (charisma)
Kepemimpinan karismatik merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat (Yuki, 1998) kepemimpinan karismatik berkaitan dengan reaksi bawahannya terhadap pemimpin dan pada pemimpin. Pemimpin di identifikasikan dengan dijadikan sebagai panutan oleh bawahan, di percaya, di hormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut persepsi bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standar yang tinggi dan sasaran yang menantang bagi bawahan (Bass, 1985). House (Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pemimpin ikut merasa karismatik berdampak besar bagi para pengikutnya. Para pengikut merasa bahwa keyakinan pemimpin benar, sehingga meningkatkan ketaatan pada diri bawahan dalam menjalankan misinya. Pemimpin mempunyai kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi, pendirian yang kuat, rasa percaya diri yang tinggi dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang di anut, kesemuanya ini akhirnya berdampak pada peningkatan kepercayaan para pengikut terhadap apa yang dikemukakan oleh pemimpin tersebut.
Karisma merupakan kekuatan pemimpin yang besar untuk memotivasi mitra kerjanya dalam melaksanakan tugasnya Bawahan mempercayai atasan karena mempunyai pandangann nilai dan tujuan yang dianggap benar, oleh karena itu pemimpin yang memiliki karisma lebih besar akan mudah mempengaruhi dan mengarahkan mitra usahanya agar bertindak sesuai dengan apa yang diinginginkan oleh pemimpinnya.
Pemimpin yang berkarisma adalah seorang pemimpin yang dapat memperlihatkan visi, kemampuan dan keahlian serta tindakan mendahulukan kepentingan perusahaan dan kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi. Pemimpin yang berkarisma dapat dijadikan suri teladan, idola dan model bagi bawahnya.

b. Rangsangan Intelektual (intellectual stimulation)
Menurut Bass (1985) rangsangan intelektual, berarti mengenalkan cara pemecahan masalah secara cerdik, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir tentang masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan yang kreatif. Rangsangan intelektual berarti menghargai kecerdasan mengembangkan rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hati-hati.
Kemampuan sang pemimpin untuk menstimuli pemikiran atau ide-ide bawahannya (intellectual stimulation), pemimpin transformasional dalam bahsa sederhana addalah seorang pemimpin yang cerdas sehingga ide-idenya atau analisanya mampu membuat pencerahan intelektual pada mitra usahanya. Seperti diterangkan oleh Seltzer dan Bass (1990) bahwa stimulasi intelektual ini, pemimpin merangsang kreatifitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap masalah lama. Menurut Bass (1985) melalui pendekatan ini bahwa di dorong untuk berpikir tentang relevansi rasa, sistem nilai, kepercayaan, harapan, dan bentuk organisasi yang ada saat ini. Bawahan juga di dorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri, serta di dorong untuk menetapkan tujuan atau sasaranya yang menantang. Rangsangan intelektual adalah dalam upaya pemimpin meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi bawahan untuk melihat persoalan tersebut melalui perspektif baru (Yuki, 1989).
Dengan ini maka dibutuhkan pula pemimpin yang dengan sendirinya terus-menerus menjadi manusia pembelajar. Schein (Bagus, 2001) mengatakan pemimpin dengan sendirinya adalah seorang “peceptual leaner” atau pembelajar yang terus menerus yang tidak kenal lelahsehingga pemimpin harus perseptif atau tanggap terhadap persoalan, mampu memotivasi, memiliki kekuatan emosional dan menenangkan kecemasan, mengubah asumsi budaya (mampu menjual visi dan konsep baru) dan mampu menciptakan keterlibatan dan partisipasi serta mempelajari budaya baru.
Ukuran dan efektifitas pemimpin adalah seberapa banyak kemampuan bawahan dan menyelesaikan tugas tanpa kehadiran pemimpin (Bass dan Avolio, 1990). Bawahan belajar memecahkan masalah dengan cara sendiri secara kreatif dan inovatif. Melalui praktik intelektual ini, mitra kerja kita diberi kesempatan seluas-luasnya oleh pemimpinya untuk bertindak secara kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalahnya. Dengan kata lain bawahan diberi kesempatan oleh pemimpin untuk bereksprresi diri mengembangkan diri.

c. Inspirasi (Inspiration)
Pemimpin inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi dan menginspirasi bawahannya yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi dari bawahannya menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.
Pemimpin inspirasional mampu mendorong bawahan untuk menetapkan suatu tujuan yang menantang dengan standard yang tinggi. Adanya tujuan yang menantang inidi harapkan akan mampu mendorong bawahan untuk memfokuskan pada usaha yang keras dalam mencapai target tersebut, Pemimpin ispirasional mengembangkan suatu pemecahan masalah dengan menggunakan simbol-simbol untuk mempermudah pemecahannya. Selain itu dalam pemecahan masalah, seorang pemimpin harus menunjukan kesan sebagai pemimpin. Pemimpin inspirasional mampu memberikan arti yang jelas terhadap tindakan yang direncanakan, bersikap tenang dalam menghadapi krisis, memberi penghargaan terhadap tindakan bawahan yang berprestasi, menekankan pada persaingan yang sehat, memberikan gambaran mengenai masa depan yang menarik dan dapat dicapai dan menjelaskan mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut (Bass, 1990).
Pemimpin yang inspirasional oleh Bass dan Avolio (Yuki, 1994) di artikan sebagai sejauh mana seorang pemimpin mampu mengkominikasika suatu misi yang menarik, mampu menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha mitra kerjanya dalam memodelkan perilaku yang sesuai.
Perilaku pemimpin yang inspirasional menurut Yuki dan Fleet (Bass, 1985) dapat merangsang, antusiasme bawahan terhadap tugas kelompok dan mengatakan hal-hal yang dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kelompok. Masih menurut  Yuki (1989) membangun kepercayaan diri bawahan seperti itu merupakan elemen utama dari pemimpin yang inspirasional. Keyakinan diri yang besar terhadap apa yang dilakukan akan menimbulkan motif untuk berprestasi serta loyalitas dan usaha yang melebihi biasanya.

d. Perhatian Individual (Individualized Consideration)
Perhatian secara individual merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh kekuasaandengan bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara individual dan dukungan secara pribadi kepada bawahannya. Menurut Bass (1985) pertimbangan individual berarti cara pemimpin memperoleh kekuasaan dengan bertindak sebagai pelatih, guru dan pembimbing yang memberikan perhatian secara individual, memberi saran dan memberikan perhatian secara individual dan dukungan kepada anggotanya secara pribadi. Lebih lanjut Bass (1990) menemukakan pertimbangan individu berarti memberi perhatian secara personal, memperlakukan bawahan secara individu, memberi saran dan memberikan bimbingan. Menurut Bass (1997) pemimpin melakukan hubungan dengan bawahan secara individual, mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan dan aspirasi individu, mendengarkan dengan penuh perhatian pengembangan jangka panjang, menasehati, mengajar membina dan melatih.
Avolio (Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pendelegasian wewenang merupakan fokus dari pertimbangan individual. Pendelegasian sebagai tugas untuk diselesaikan bahwahan merupakan tantangan kerja bagi bawahan dan sekaligus memberi kesempatan kepada bawahan untuk belajar. Pendelegasian sebagai wewenang kepada bawahan menurut Bass (1990) dapat melalui orientasi terhadap pengembangan bawahan, orientasi terhadap individu dan mentoring. Perhatian yang berorientasi pada pengembangan bawahan di tunjukan melalui pendelegasian sebagai tugas kepada bawahan. Perhatian yang berorientasi kepada individu ditunjukan dengan memberi dukungan dan memperlakukan bawahan secara individu. Dengan demikian pemimpin dapat melihat adanya perbedaan yang terdapat pada bawahannya atau mitra kerjanya. Hal ini akan mempermudah pemimpin dalam memberikan perlakuan terhadap masing-masing bawahannya, Sedangkan mentoring merupakan bentuk perhatian yang individual yang ditunjukan melalui konsultasi atasan kepada bawahan.
Perhatian seorang atasan kepada bawahannya merupakan kewajiban, karena sebagai figur pemimpin dituntuk untuk senantiasa bisa memberikan bimbingan dan saran yang diperlukan bagi perkembangan bawahannya. Pemimpin transformasional membangkitka rasa hormat dan pengabdian dari dalam diri tiap-tiap orang menyediakan waktu untuk menyatakan bahwa mereka itu penting.
Paragdima baru dari kepemimpinan transformasional mengangkat tujuh prinsip untuk menciptakan kepemimpinan transformasional yang sinergis sebagaimana dibawah ini (Erik Ress: 2001):
1) Simplifikasi, keberhasilan dari kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan menjadi cermin dan tujuan bersama. Kemampuan serta keterampilan dalam mengungkapkan visi secara jelas, praktis dan tentu saja transformasional yang dapat menjawab ”kemana kita akan melangkah?” menjadi hal pertama yang penting untuk kita implementasikan.
2) Motivasi, kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi yang sudah di jelaskan adalah hal kedua yang perlu kita lakukan. Pada saat pemimpin transformasional dapat menciptakan suatu sinergitas di dalam organisasi, berarti seharusnya dia dapat pula mengoptimalkan, memotivasi dan memberi energi kepada setiap pengikutnya. Praktisnya dapat saja berupa tugas atau pekerjaan yang betul-betul menantang serta memberikan peluang bagi mereka untuk terlibat dalam suatu proses kreatif baik dalam hal memberikan usulan ataupun mengambil keputusan dalam pemecahan masalah, sehingga hal ini pula akan memberikan nilai tambah bagi mereka sendiri.
3) Fasilitas, dalam pengertian kemampuan untuk secara kelembagaan, kelompok ataupun individual. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual. dari setiap orang yang terlibat di dalamnya.

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA


  • Hello friends..Kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai sejarah perkembangan psikologi agama. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Untuk mendownload filenya dapat klik tulisan di bawah ini:




SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA

Untuk menetapkan  secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci agama maupun sejarah agama.

Sumber-sumber Barat mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari kajian para anthropolog.

Sejak tumbuhnya kesadaran manusia , orang telah merenungkan tentang arti hidup dan keberadaan di dunia, mengapa manusia berperilaku seperti itu, dan bagaimana arti hidup dan perilaku itu berhubungan dengan dunia ilahiah. Untuk itu dapat dipahami bahwa mempercayai zat yang adikodrati(supranatural) sebagai pencipta alam ini adalah tabiat manusia yang ada bersama dengan adanya tubuh manusia. Dengan kata lain, paling tidak mempercayai adanya tuhan,  telah mengambil tempat pada diri manusia.
Perjalanan hidup Sidharta Gautama dari seorang putra raja Kapilawatsu yang bersedia mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang petapa menunujukan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tokoh agama budha. Dan proses itu kemudian dalam psikologi agama disebut dengan konveksi agama.
Sidharta Gautama yang putra raja itu, sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan istana yang serba mewah. Tetapi, ketika usia remaja, saat melihat kehidupan masyarakat, Sidharta menyaksikan segala bentuk penderitaan manusia dari yang tua, sakit, dan orang yang meninggal dunia. Pemandangan seperti itu tak pernah dilihat Sidharta sebelumnya. Dari dialog dengan pengawalnya, Sidharta berkesimpulan bahwa kehidupan manusia penuh dengan penderitaan, mengalami usia lanjut, sakit, dan akhirnya akan mati.
Segala yang disaksikan oleh Sidharta itu kemudian membatin dalam dirinya, hingga pada suatu malam ia ke luar dari istana dan meninggalkan segala kemewahan hidup. Ia mengasingkan diri menjadi pertapa, hingga kemudian memberi arah baru dalam kehidupan selanjutnya. Sidharta Gautama mengalami konversi agama dari pemeluk agama Hindu menjadi pendakwah agama baru, yaitu agama Budha. Sidharta kemudian dikenal sebagai Budha Gautama
Berdasarkan sumber barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai populer sekitar abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berfikir dan mengemukakan perasaan keagamaan.

Psikologi Agama Abad ke-19

Pada pertengahan abad ke-19, melintas modern yang tumbuh sejak abad ke-16, siap untuk berkembang secara penuh. Dimana pada abad pertengahan tersebut, manusia dipandang menduduki tempat utama dalam kosmos. Bumi dianggap sebagai pusat alam raya dan segala hal yang paling indah dan tinggi. Tetapi teori Copernicus tentang matahari sebagai pusat alam raya dan teleskop galileo, ditambah lagi pengaruh pemikiran baru Rene Descrates dan Issac Newton, menjadi awal bergeraknya kekuatan baru.
Pengaruh dari gerakan itu pada abad ke-19, telah mengubah pandangan tentang kedudukan manusia. Bumi dan langit tidak lagi dipandang sebagai demi manusia, bahkan sebaliknya manusia ditafsirkan hanya sebagai bagian dunia.

Terbitnya buku origin of species, buah karya Darwin tahun 1859, dapat disebut sebagai langkah simbolis yang mengisyaratkan bahwa hidup manusia sendiri dapat diamati dengan diteliti serta dibuat hipotesis secara rasional.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh prof. Dr. Zakiah daradjat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa dilngkungan IAIN. Di ;uar itu, kuliah mengenai psikologi agama sudah diberikan,khususnya  di Fakultas Tarbiyah o;ek prof. Dr. A. Mukti Ali dan prof, dr, zakiah Daradjat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Di luar itu, ada sejumlah tulisan yang berkaitan dengan psikologi agama ini. Tulisan tersebut dikembangkan dilingkungan bidang kedokteran, seperti yang dilakukan oleh prof. Dr. Aulia maupun K.H. SS. Djam’an yang melakukan pendekatan dengan menggunakan ajaran agama islam. Sedangkan dibidang akademik  tulisan- tulisan mengenai psikologi agama banyak dihasilkan oleh kalangan gereja khatolik.

Psikologi agama tergolong cabang psikologi yang berusia muda. Berdasarkan informasi dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Selain itu, pada tahap-tahap awalnya psikologi agama didukung oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.

Psikologi Agama Abad ke-20

Sumber-sumber barat mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah modern dilapangan psikologi agama dimulai dari kajian para antropolog dan sosiolog seperti Stanley Hall. Disamping itu, hal yang sangat menguntungkan adalah bahwa disekitar pergantian abad ke-19 dan ke-20 terbit dua buah buku yang menjembatani jurang antara psikolog dan agama serta banyak mengatasi rasa permusuhan antara keduanya.

Sumber-sumber barat umumnya merujuk awal kelahiran psikologi agama adalah dari karya Edwin Diller Starbuck dan William James. Buku karya E.D. Starbuck diterbitkan tahun 1899, dinilai sebagai buku paling khusus membahas masalah yang menyangkut psikologo agama. Setahun kemudian, William James menerbitkan buku yang berisi pengalaman agama. Buku-buku ini dianggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari lahir psikolosi agama menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Psikologi agama diakui sebagai disiplin ilmu, cabang dari psikologi, seperti ilmu-ilmu cabang psikoogi lainya.
Jadi, pada dasa warsa awal abad ke-20 para penulis dan peneliti yang karya-karyanya bertumpu pada karya Starbuck dan James memberi identitas pada munculnya istilah “Psikologi Agama”.

Setelah negara islam bebas dari kungkungan penjajah barat, secara bertahap muncul karya-larya ilmuwan muslim. Karya penulis muslim di zaman modern, seperti buku al-maghary, bagaimanapun dapat disejajarkan dengan karya-karya yang dihasilkan oleh ahli-ahli psikologi agama lainya. Selain itu juga, bukunya yang mulai khusus kepada disiplin ilmu tertentu, seperti al-nummuwu al-nafsy. Keduanya diterbitkan tahun 1955 dan 1957.

Sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan dengan usianya yang masih muda. Hal ini antara lain disebabkan, selain bidang kajian psikologi agama menyangkut kehiduan manusia secara pribadi, maupun kelompok, bidang kajianya juga mencakup permasalahan yang menyangkut perkembangan usia manusia.
Perkembangan agama yang cukup pesat ini ditandai dengan diterbitkanya berbagai jarya tulis, baik berupa buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana peranagama dalam kehidupan manusia.

METODE PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah.Kajian dilakukan dengan memepelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif.
Karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangant mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh subjektifitas.Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, masih diperlukan adanya sikap yang objektif.
Makanya dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain:
1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia;
2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris;
3. Dalam penelitian harus bersikap filosofis-spiritualistis;
4. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali;
5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi dan metodenya;
6. Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metode-metodenya;
7. Menyadari tentang adanya, perbedaan antara ilmu dan agama;
8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penilitian ilmiah.
Dengan berpedoman kepada petunjuk-petunjuk seperti dikemukakan di atas, diharapkan para peneliti dalam mengumpulkan, mengolah dan menganalisa data akan bersikap lebih objektif.
Dalam meneliti psikologi agama digunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
          1. Dokumen Pribadi (Personal Document)
          2. Kuesioner dan Wawancara

Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Demikian pula, ada yang menggunakan dokumen pribadi, baik berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan angket, dan wawancara sebagai pelengkap.

Psikologi Agama dalam Islam

Secara terminologis, memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari leteratur Barat. Dan dikalangan ilmuan Barat yang mula-mula menggunakan sebutan psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, melalui karangannya Psychology of Religion yang terbit tahun 1899. Namun, hal ini tidak berarti bahwa di luar itu studi yang berkaitan dengan psikologi agama belum pernah dilakukan oleh para ilmuwan non-Barat.

Meskipun di kalangan ilmuwan Muslim kajian-kajian dalam  psikologi agama mulai dilakukan secara khusus sekitar pertengahan abad ke-20, namun permasalahan yang ada sangkut-pautnya dengan bidang kajian ini sudah berlangsung sejak awal perkembangan Islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama.

Sudah sejak lama Al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki sosok diri yang terbentuk dari unsur fisik dan nonfisik. Secara anatomis, pemahaman terhadapa unsur fisik tampaknya tak jauh berbeda dari konsep manusia menurut pandangan ilmuwan Barat, meskipun dalam pengertian khusu konsep Islam tentang manusia lebih rinci.

Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.