ni gan langsung download injeknya di bawah ini.
klik DOWNLOAD INJEK
Inspirasi Hidup
Tuesday, 21 April 2015
Tuesday, 17 February 2015
KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
- Pada kesempatan ini saya berbagi pengetahuan mengenai "Kepemimpinan Pendidikan", kita dapat melihat pemimpin yang baik itu seperti apa. Dengan ini semoga wawasan kita bertambah luas. Ok langsung saja baca dan pahami dari materi berikut ini. Dan untuk filenya dapat di download di bawah ini:
KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
A. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah salah satu faktor yang menentukan kesuksesan
dalam sebuah manajemen pendidikan. Untuk itu perlu kiranya dibahas tentang
pengertian kepemimpinan, teori kepemimpinan, tipe kepemimpinan, pengertian
manajemen, dan kepemimpinan sehubungan dengan manajemen pendidikan. Mengapa
perlu ada pemimpin? Pemimpin diperlukan sedikitnya terdapat empat macam alasan,
yaitu, yaitu (a) karena banyak orang memerlukan figur pemimpin, (b) dalam
beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya, (c) sebagai
tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelompoknya, dan
(d) sebagai tempat untuk meletakan kekuasaan. Untuk mengetahui definisi
kepemimpinan maka lebih baik kita mengetahui dahulu konsep dari kepemimpinan
yang dilihat dari sejarah perkembangannya, yaitu:
1. Suatu kemampuan yang menganggap bahwa kepimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin. Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai traits within the individual leader. Dimana konsep ini merupakan konsep kepemimpinan yang paling tua dan paling lama dianut orang.
2. Konsep yang kedua memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok (funtion of the group). Menurut konsep ini, sukses tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang memimpin.
3. Konsep yang ketiga adalah konsep yang didasarkan atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga terhadap politik dan ekonomi. Menurut konsep ini kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi. Konsep yang ketiga ini menunjukan bahwa, betapa pun seorang pemimpin telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsinya sebagai anggota kelompok, sukses-tidaknya kepemimpinanya masih ditentukan pula oleh situasi yang selalu berubah-ubah. Adanya perubahan dan perkembangan tersebut dituntut adanya perubahan dan perkembangan dalam sifat-sifat, kemampuan, dan gaya kepemimpinan yang diperlukan.
Dari konsep
tersebut diatas maka dapat ditarik suatu definisi kepemimpinan yang dipaparkan
oleh beberapa ahli, antara lain:
a. Koontz & O’donnel, mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan sekelompoknya.
b. Wexley & Yuki (1977), kepemimpinan mengandung arti mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka.
c. George R. Terry, kepemimpinan adalah mempengaruhi orang-orang untuk bersedia berusaha mencapai tujuan bersama.
d. Fiedler (1967), kepemimpinan adalah pada dasarnya pola hubungan antara individu-individu yang mengandung wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan.
e. John Pfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan dan memotivasi orang-orang dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di kehendaki.
f. Davis (1977), mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat.
g. Locke et.al (1991), mendefinisan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama. Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari pola hubungan, kemampuan mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang lain.
h. Amitai Etzioni, kepemimpinan adalah kekuatan (power) yang didasarkan atas tabiat/ watak seseorang yang memiliki kekuasaan lebih, biasanya bersifat normatif.
i. Daniel Katz and Robert I. Kahn, hakikat kepemimpinan organisasi adalah penambahan pengaruh (influential increment) terhadap dan tersebut pelaksanaan mekanism pengarahan-pengarahan rutin dari suatu organisasi
j. James Lipham, kepemimpinan adalah permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi.
Dari beberapa
definisi tersebut, ada beberapa unsur pokok yang mendasari atau sudut pandang
dan sifat-sifat dasar yang ada dalam merumuskan definisi kepemimpinan yaitu:
1) Unsur-unsur yang mendasari
Unsur-unsur yang mendasari kepemimpinan dari definisi-definisi yang dikemukakan tersebut, adalah: (1) Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/ bawahan). (2) Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok. (3) Adanya unsur kerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2) Sifat dasar kepemimpinan
Sifat-sifat yang mendasari kepemimpinan adalah kecakapan memimpin. Paling tidak, dapat dikatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsur kecakapan pokok, yaitu: (1) Kecakapan memahami individual, artinya mengetahui bahwa setiap manusia mempunyai daya motivasi yang berbeda pada berbagai saat dan keadaan yang berlainan. (2) Kemampuan untuk menggugah semangat dan memberi inspirasi. (3) Kemampuan untuk melakukan tindakan dalam suatu cara yang dapat mengembangkan suasana (iklim) yang mampu memenuhi dan sekaligus menimbulkan dan mengendalikan motivasi-motivasi (Tantangan M. Amirin, 1983:15). Pendapat lain, menyatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsur pokok yang mendasarinya yaitu: (1) Seseorang pemimpin harus memiliki kemampuan persepsi sosial (sosial perception). (2) Kemampuan berpikir abstrak (ability in abstrakct thinking). (3) Memiliki kestabilan emosi (emosional stability).
Kemudian dari definisi Locke, yang
dikemukakan tersebut, dapat dikategorikan kepemimpinan menjadi tiga elemen
dasar, yaitu:
a) Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relation consept), artinya kepemimpinan hanya ada dalam relasi dengan orang lain, maka jika tidak ada pengikut atau bawahan, tak ada pemimpin. Dalam definisi Locke, tersirat premis bahwa para pemimpin yang efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berelasi dengan para pengikut mereka.
b) Kepemimpinan merupakan suatu proses, artinya proses kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritasatau posisi jabatan saja, karena dipandang tidak cukup memadai untuk membuat seseorang menjadi pemimpin, artinya seorang pemimpin harus melakukan sesuatu. Maka menurut Burns (1978), bahwa untuk menjadi pemimpin seseorang harus dapat mengembangkan motivasi pengikut secara terus menerus dan mengubah perilaku mereka menjadi responsif.
c) Kepemimpinan berarti mempengaruhi orang-orang lain untuk mengambil tindakan, artinya seorang pemimpin harus berusaha mempengaruhi pengikutnya dengan berbagai cara, seperti menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, restruksisasi organisasi dan mengkomunikasikan sebuah visi. Dengan demikian, seorang pemimpin dapat dipandang efektif apabila dapat membujuk para pengikutnya untuk meninggalkan kepentingan pribadi meeka demi keberhasilan organisasi Bass, (1995. Locke et.al., 1991,. dalam Mochammad Teguh, dkk., 2001: 69).
B. Dimensi-dimensi Kepemimpinan
Berdasarkan penemuan-penemuan dalam penelitian Dorwin Cartwrigt dan
Alvin Zander mengemukakan kepemimpinan dipandang dari dua fungsi kelompok.
Mereka berkesimpulan bahwa pada umumnya sasaran kelompok dapat dihubungkan
dengan salah satu dari dua hal berikut: (1) pencapaian tujuan yaitu pencapaian
tujuan khusus dari kelompok; atau (2) pemeliharaan kelompok yaitu pemeliharaan
atau perkuatan kelompok itu sendiri.
Salah satu rancangan kepemimpinan yang lebih komprehensif di
kemukakan oleh Raplh M. Stogdill dan kawan-kawannya yang mengemukakan dua belas
dimensi kepemimpinan, yang dijabarkan dari komponen “orientasi sistem” dan
“orientasi person”.
Berorientasi
Sistem
|
Berorientasi
person
|
·
Mengutamakan
produksi melakukan desakan untuk hasil yang produktif
·
Pemberitahuan
struktur secara jelas menetapkan, perannya sendiri dan mengajak para pengikut
mengetahui apa yang diharapkan
·
Perwakilan
membicarakan dan bertindak sebagai wakil kelompok
·
Asumsi
peranah secara aktif melatih peranan kepemimpinan dari pada menyerahkan
kepemimpinan kepada yang lain
·
Persuasi
menggunakan keyakinan dan bukti secara efektif; menunjukan keyakinan yang
kuat
·
Orientasi ke
atas memelihara hubungan yang tamah dengan yang lebih tinggi, mempunyai
pengaruh terhaddap mereka, dan memperjuangkan status yang lebih tinggi
|
·
Toleransi
kebebasan mengizinkan anggota-anggota staf mengmbil inisiatif, keputusan, dan
tindakan
·
Toleransi
ketidaksesuaian dapat mentoleransi ketidakpastian dan penangguhan tanpa
merasa cemas atau bimbang
·
Konsiderasi/
perhatian memperhatikan kesenangan, kesehatan, kedudukan, dan kontribusi
pengikut
·
Tuntutan
ketentraman mendamaikan pertentangan-pertentangan dan mengurangi kekacauan
atau kebingungan terhadap sistem
·
Ketepatan
prakiraan memperlihatkan pengertian dan kemampuan memprakirakan hasil-hasil
secara tepat
·
Integrasi
memelihara kekompakan organisasi dan penyelesaian pertentangan-pertentangan
antar anggota
|
Dalam usahanya meng menggabungkan teori dan penelitian tentang
kepemimpinan, David G. Bowers dan Stanley E. Seashore mengusulkan empat dimensi
pokok dari struktur fundamental kepemimpinan, yaitu:
1. Bantuan (support) yaitu tingkah laki yang memperbesar perasaan berharga seseorang dan merasa dianggap penting.
2. Kemudahan interaksi yaitu tingkah laku yang memberanikan anggota-anggota kelompok untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang saling menyenangkan.
3. Pengutamaan tujuan yaitu tingkah laku yang merangsang antusiasme bagi penemu tujuan kelompok mengenal pencapaian prestasi yang baik.
4. Kemudahan bekerja yaitu tingkah laku yang membantu pencapaian tujuan dengan kegiatan-kegiatan seperti penetapan waktu, pengorganisasian, perencanaan dan penyediaan sumber-sumber seperti alat-alat, bahan-bahan dan pengetahuan teknis.
C. Gaya Kepemimpinan
Keberadaan pemimpin memegang peranan penting di dalam jalannya roda
organisasi, sesuai dengan perannya sebagai penunjuk arah dan tujuan di masa
depan (direct setter), agen perubahan (change agent),
negosiator (spokes person), dan sebagai pembina (coach). Namun,
secara tidak di sadari seorang pemimpin dalam melaksanakan perannya sering
menggunakan caranya sendiri. Dan cara-cara yang digunakannya merupakan
pencerminan dari sifat-sifat dasar kepribadian seorang pemimpin walaupun
pengertian ini tidak mutlak. Cara atau teknik seorang dalam menjalankan suatu
kepemimpinan tersebut antara lain:
1. Gaya Kepemimpinan Transformasional
Asumsi yang mendasari kepemimpinan transformasional adalah bahwa setiap
orang akan mengikuti seseorang yang dapat memberikan mereka inspirasi,
mempunyai visi yang jelas, serta cara dan energi yang baik untuk mencapai
sesuatu tujuan baik yang besar. Bekerjasama dengan seorang pemimpin dapat
memberikan suatu pengalaman yang berharga, karena pemimpin transformasional
biasanya akan selalu memberikan semangat dan energi positif terhadap segala hal
dan pekerjaan tanpa kita menyadarinya.
Pemimpin transformasional akan memulai segala sesuatu dengan visi,
yang merupakan suatu pandangan dan harapan kedepan yang akan dicapai bersama
dengan memadukan semua kekuatan, kemampuan dan keberadaan para pengikutnya.
Mungkin saja bahwa sebuah visi ini dikembangkan oleh para pemimpin itu sendiri
atau visi tersebut memang sudah ada secara kelembagaan yang sudah dibuat
dirumuskan oleh para pendahulu sebelumnya dan memang masih sahih dan selaras
dengan perkembangan kebutuhan dan tuntutan pada saat sekarang.
Pemimpin transformasional pada dasarnya memiliki totalitasnya
perhatian dan selalu berusaha membuat dan mendukung keberhasilan para
pengikutnya para pengikutnya. Tentu saja semua perhatian dan totalitas yang
diberikan pemimpin transformasional tidak akan berarti tanpa adanya komitmen
bersama dari masing-masing pribadi pengikut.
Konsep kepemimpinan Transformasional menurut Burn (dalam Yudhawati:
2005) dikembangkan melalui landasan teori tata tingkat kebutuhan dari Maslow.
Burn menjelaskan keterkaitan antara konsepkepemimpinan transformasional dan
transaksional dengan teori tata tingkat kebutuhan bawahannya lebih rendah
seperti kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, dan kebutuhan akan penghargaan
yang dapat terpenuhi dengan menggunakan gaya kepemimpinan transaksional.
Sedangkan kebutuhan lebih tinggi seperti harga diri dan aktualitas diri menurut
Killer (Yudhawati, 2005) hanya dimungkinkan ada dalam kepemimpinan
transformasional. Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pemimpin
trasformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral
dan strategis dalam membawa organisasi dalam mencapai tujuannya. pemimpin
transfornasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa
depan dengan bawaannya, serta mempertinggi kebutuhan bahwahan pada tingkat yang
lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Yamarino dan Bass (1990), pemimpin transformasional harus mampu
membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan
mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Bryman (1990),
pemimpin transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership),
sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (break
through leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpin semacam ini
mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap
individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent)
karakter diri individu-individu dalam organisasi dalam perbaikan organisasi,
melalui proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses dan
nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan relevan, dengan cara-cara yang
menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba untuk
merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin
dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang
mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai
hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai hasil-hasil yang
diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang “metanoica”,
dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mau menciptakan pergesaran
paradigma untuk mengembang praktik-praktik organisasi yang sekarang dengan yang
lebih baru dan lebih baru dan lebih relevan. Metanoia berasal dari kata Yunani
meta yang berarti perubahan, dan nous/ noos yang berarti pikiran.
Menerut Bass terdapat empat ciri yang dimiliki seorang pemimpin
sehingga memiliki kualitas transformasional adalah sebagai berkut. Menurut Bass
dan Avolio (Patty, 2001) ada empat aspek yang mendasari kepemimpinan
transformasional, yaitu:
a. Karisma (charisma)
Kepemimpinan
karismatik merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan menimbulkan
emosi-emosi yang kuat (Yuki, 1998) kepemimpinan karismatik berkaitan dengan
reaksi bawahannya terhadap pemimpin dan pada pemimpin. Pemimpin di
identifikasikan dengan dijadikan sebagai panutan oleh bawahan, di percaya, di
hormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut persepsi bawahan dapat
diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standar yang tinggi dan sasaran yang menantang
bagi bawahan (Bass, 1985). House (Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pemimpin
ikut merasa karismatik berdampak besar bagi para pengikutnya. Para pengikut
merasa bahwa keyakinan pemimpin benar, sehingga meningkatkan ketaatan pada diri
bawahan dalam menjalankan misinya. Pemimpin mempunyai kebutuhan akan kekuasaan
yang tinggi, pendirian yang kuat, rasa percaya diri yang tinggi dan keyakinan
terhadap nilai-nilai yang di anut, kesemuanya ini akhirnya berdampak pada
peningkatan kepercayaan para pengikut terhadap apa yang dikemukakan oleh
pemimpin tersebut.
Karisma
merupakan kekuatan pemimpin yang besar untuk memotivasi mitra kerjanya dalam
melaksanakan tugasnya Bawahan mempercayai atasan karena mempunyai pandangann
nilai dan tujuan yang dianggap benar, oleh karena itu pemimpin yang memiliki
karisma lebih besar akan mudah mempengaruhi dan mengarahkan mitra usahanya agar
bertindak sesuai dengan apa yang diinginginkan oleh pemimpinnya.
Pemimpin yang
berkarisma adalah seorang pemimpin yang dapat memperlihatkan visi, kemampuan
dan keahlian serta tindakan mendahulukan kepentingan perusahaan dan kepentingan
orang lain dari pada kepentingan pribadi. Pemimpin yang berkarisma dapat
dijadikan suri teladan, idola dan model bagi bawahnya.
b. Rangsangan Intelektual (intellectual stimulation)
Menurut Bass
(1985) rangsangan intelektual, berarti mengenalkan cara pemecahan masalah
secara cerdik, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir tentang
masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan yang kreatif. Rangsangan
intelektual berarti menghargai kecerdasan mengembangkan rasionalitas dan
pengambilan keputusan secara hati-hati.
Kemampuan sang
pemimpin untuk menstimuli pemikiran atau ide-ide bawahannya (intellectual
stimulation), pemimpin transformasional dalam bahsa sederhana addalah seorang
pemimpin yang cerdas sehingga ide-idenya atau analisanya mampu membuat
pencerahan intelektual pada mitra usahanya. Seperti diterangkan oleh Seltzer
dan Bass (1990) bahwa stimulasi intelektual ini, pemimpin merangsang
kreatifitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru
terhadap masalah lama. Menurut Bass (1985) melalui pendekatan ini bahwa di
dorong untuk berpikir tentang relevansi rasa, sistem nilai, kepercayaan,
harapan, dan bentuk organisasi yang ada saat ini. Bawahan juga di dorong
melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk
mengembangkan kemampuan diri, serta di dorong untuk menetapkan tujuan atau
sasaranya yang menantang. Rangsangan intelektual adalah dalam upaya pemimpin
meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi
bawahan untuk melihat persoalan tersebut melalui perspektif baru (Yuki, 1989).
Dengan ini maka
dibutuhkan pula pemimpin yang dengan sendirinya terus-menerus menjadi manusia
pembelajar. Schein (Bagus, 2001) mengatakan pemimpin dengan sendirinya adalah
seorang “peceptual leaner” atau pembelajar yang terus menerus yang tidak
kenal lelahsehingga pemimpin harus perseptif atau tanggap terhadap persoalan,
mampu memotivasi, memiliki kekuatan emosional dan menenangkan kecemasan,
mengubah asumsi budaya (mampu menjual visi dan konsep baru) dan mampu
menciptakan keterlibatan dan partisipasi serta mempelajari budaya baru.
Ukuran dan
efektifitas pemimpin adalah seberapa banyak kemampuan bawahan dan menyelesaikan
tugas tanpa kehadiran pemimpin (Bass dan Avolio, 1990). Bawahan belajar
memecahkan masalah dengan cara sendiri secara kreatif dan inovatif. Melalui
praktik intelektual ini, mitra kerja kita diberi kesempatan seluas-luasnya oleh
pemimpinya untuk bertindak secara kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan
masalahnya. Dengan kata lain bawahan diberi kesempatan oleh pemimpin untuk
bereksprresi diri mengembangkan diri.
c. Inspirasi (Inspiration)
Pemimpin
inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi dan
menginspirasi bawahannya yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan
yang tinggi dari bawahannya menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada
kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.
Pemimpin
inspirasional mampu mendorong bawahan untuk menetapkan suatu tujuan yang
menantang dengan standard yang tinggi. Adanya tujuan yang menantang inidi
harapkan akan mampu mendorong bawahan untuk memfokuskan pada usaha yang keras
dalam mencapai target tersebut, Pemimpin ispirasional mengembangkan suatu
pemecahan masalah dengan menggunakan simbol-simbol untuk mempermudah
pemecahannya. Selain itu dalam pemecahan masalah, seorang pemimpin harus
menunjukan kesan sebagai pemimpin. Pemimpin inspirasional mampu memberikan arti
yang jelas terhadap tindakan yang direncanakan, bersikap tenang dalam
menghadapi krisis, memberi penghargaan terhadap tindakan bawahan yang
berprestasi, menekankan pada persaingan yang sehat, memberikan gambaran
mengenai masa depan yang menarik dan dapat dicapai dan menjelaskan mengenai
langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut (Bass, 1990).
Pemimpin yang
inspirasional oleh Bass dan Avolio (Yuki, 1994) di artikan sebagai sejauh mana
seorang pemimpin mampu mengkominikasika suatu misi yang menarik, mampu
menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha mitra kerjanya dalam
memodelkan perilaku yang sesuai.
Perilaku
pemimpin yang inspirasional menurut Yuki dan Fleet (Bass, 1985) dapat
merangsang, antusiasme bawahan terhadap tugas kelompok dan mengatakan hal-hal
yang dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan
tugas dan mencapai tujuan kelompok. Masih menurut Yuki (1989) membangun kepercayaan diri
bawahan seperti itu merupakan elemen utama dari pemimpin yang inspirasional.
Keyakinan diri yang besar terhadap apa yang dilakukan akan menimbulkan motif
untuk berprestasi serta loyalitas dan usaha yang melebihi biasanya.
d. Perhatian Individual (Individualized Consideration)
Perhatian
secara individual merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh
kekuasaandengan bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara
individual dan dukungan secara pribadi kepada bawahannya. Menurut Bass (1985)
pertimbangan individual berarti cara pemimpin memperoleh kekuasaan dengan
bertindak sebagai pelatih, guru dan pembimbing yang memberikan perhatian secara
individual, memberi saran dan memberikan perhatian secara individual dan
dukungan kepada anggotanya secara pribadi. Lebih lanjut Bass (1990) menemukakan
pertimbangan individu berarti memberi perhatian secara personal, memperlakukan
bawahan secara individu, memberi saran dan memberikan bimbingan. Menurut Bass
(1997) pemimpin melakukan hubungan dengan bawahan secara individual,
mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan dan aspirasi individu, mendengarkan
dengan penuh perhatian pengembangan jangka panjang, menasehati, mengajar
membina dan melatih.
Avolio
(Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pendelegasian wewenang merupakan fokus dari
pertimbangan individual. Pendelegasian sebagai tugas untuk diselesaikan
bahwahan merupakan tantangan kerja bagi bawahan dan sekaligus memberi
kesempatan kepada bawahan untuk belajar. Pendelegasian sebagai wewenang kepada
bawahan menurut Bass (1990) dapat melalui orientasi terhadap pengembangan bawahan,
orientasi terhadap individu dan mentoring. Perhatian yang berorientasi pada
pengembangan bawahan di tunjukan melalui pendelegasian sebagai tugas kepada
bawahan. Perhatian yang berorientasi kepada individu ditunjukan dengan memberi
dukungan dan memperlakukan bawahan secara individu. Dengan demikian pemimpin
dapat melihat adanya perbedaan yang terdapat pada bawahannya atau mitra
kerjanya. Hal ini akan mempermudah pemimpin dalam memberikan perlakuan terhadap
masing-masing bawahannya, Sedangkan mentoring merupakan bentuk perhatian yang
individual yang ditunjukan melalui konsultasi atasan kepada bawahan.
Perhatian
seorang atasan kepada bawahannya merupakan kewajiban, karena sebagai figur
pemimpin dituntuk untuk senantiasa bisa memberikan bimbingan dan saran yang
diperlukan bagi perkembangan bawahannya. Pemimpin transformasional membangkitka
rasa hormat dan pengabdian dari dalam diri tiap-tiap orang menyediakan waktu
untuk menyatakan bahwa mereka itu penting.
Paragdima
baru dari kepemimpinan transformasional mengangkat tujuh prinsip untuk
menciptakan kepemimpinan transformasional yang sinergis sebagaimana dibawah ini
(Erik Ress: 2001):
1) Simplifikasi, keberhasilan dari kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan menjadi cermin dan tujuan bersama. Kemampuan serta keterampilan dalam mengungkapkan visi secara jelas, praktis dan tentu saja transformasional yang dapat menjawab ”kemana kita akan melangkah?” menjadi hal pertama yang penting untuk kita implementasikan.
2) Motivasi, kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi yang sudah di jelaskan adalah hal kedua yang perlu kita lakukan. Pada saat pemimpin transformasional dapat menciptakan suatu sinergitas di dalam organisasi, berarti seharusnya dia dapat pula mengoptimalkan, memotivasi dan memberi energi kepada setiap pengikutnya. Praktisnya dapat saja berupa tugas atau pekerjaan yang betul-betul menantang serta memberikan peluang bagi mereka untuk terlibat dalam suatu proses kreatif baik dalam hal memberikan usulan ataupun mengambil keputusan dalam pemecahan masalah, sehingga hal ini pula akan memberikan nilai tambah bagi mereka sendiri.
3) Fasilitas, dalam pengertian kemampuan untuk secara kelembagaan, kelompok ataupun individual. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual. dari setiap orang yang terlibat di dalamnya.
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
- Hello friends..Kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai sejarah perkembangan psikologi agama. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Untuk mendownload filenya dapat klik tulisan di bawah ini:
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai
dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah
tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun
demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi
ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi
kitab suci agama maupun sejarah agama.
Sumber-sumber
Barat mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari
kajian para anthropolog.
Sejak
tumbuhnya kesadaran manusia , orang telah merenungkan tentang arti hidup dan
keberadaan di dunia, mengapa manusia berperilaku seperti itu, dan bagaimana
arti hidup dan perilaku itu berhubungan dengan dunia ilahiah. Untuk itu dapat
dipahami bahwa mempercayai zat yang adikodrati(supranatural) sebagai pencipta
alam ini adalah tabiat manusia yang ada bersama dengan adanya tubuh manusia.
Dengan kata lain, paling tidak mempercayai adanya tuhan, telah mengambil tempat pada diri manusia.
Perjalanan
hidup Sidharta Gautama dari seorang putra raja Kapilawatsu yang bersedia
mengorbankan kemegahan dan kemewahan hidup untuk menjadi seorang petapa
menunujukan bagaimana kehidupan batin yang dialaminya dalam kaitan dengan
keyakinan agama yang dianutnya. Proses perubahan arah keyakinan agama ini
mengungkapkan pengalaman keagamaan yang mempengaruhi diri tokoh agama budha.
Dan proses itu kemudian dalam psikologi agama disebut dengan konveksi agama.
Sidharta Gautama yang
putra raja itu, sejak kecil sudah hidup dalam lingkungan istana yang serba
mewah. Tetapi, ketika usia remaja, saat melihat kehidupan masyarakat, Sidharta
menyaksikan segala bentuk penderitaan manusia dari yang tua, sakit, dan orang
yang meninggal dunia. Pemandangan seperti itu tak pernah dilihat Sidharta
sebelumnya. Dari dialog dengan pengawalnya, Sidharta berkesimpulan bahwa
kehidupan manusia penuh dengan penderitaan, mengalami usia lanjut, sakit, dan
akhirnya akan mati.
Segala yang disaksikan
oleh Sidharta itu kemudian membatin dalam dirinya, hingga pada suatu malam ia
ke luar dari istana dan meninggalkan segala kemewahan hidup. Ia mengasingkan
diri menjadi pertapa, hingga kemudian memberi arah baru dalam kehidupan
selanjutnya. Sidharta Gautama mengalami konversi agama dari pemeluk agama Hindu
menjadi pendakwah agama baru, yaitu agama Budha. Sidharta kemudian dikenal
sebagai Budha Gautama
Berdasarkan
sumber barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi
agama mulai populer sekitar abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin
berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat
membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berfikir dan mengemukakan
perasaan keagamaan.
Psikologi
Agama Abad ke-19
Pada
pertengahan abad ke-19, melintas modern yang tumbuh sejak abad ke-16, siap
untuk berkembang secara penuh. Dimana pada abad pertengahan tersebut, manusia
dipandang menduduki tempat utama dalam kosmos. Bumi dianggap sebagai pusat alam
raya dan segala hal yang paling indah dan tinggi. Tetapi teori Copernicus
tentang matahari sebagai pusat alam raya dan teleskop galileo, ditambah lagi
pengaruh pemikiran baru Rene Descrates dan Issac Newton, menjadi awal
bergeraknya kekuatan baru.
Pengaruh
dari gerakan itu pada abad ke-19, telah mengubah pandangan tentang kedudukan
manusia. Bumi dan langit tidak lagi dipandang sebagai demi manusia, bahkan
sebaliknya manusia ditafsirkan hanya sebagai bagian dunia.
Terbitnya buku origin of species, buah karya Darwin tahun 1859, dapat disebut sebagai langkah simbolis yang mengisyaratkan bahwa hidup manusia sendiri dapat diamati dengan diteliti serta dibuat hipotesis secara rasional.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh prof. Dr. Zakiah daradjat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa dilngkungan IAIN. Di ;uar itu, kuliah mengenai psikologi agama sudah diberikan,khususnya di Fakultas Tarbiyah o;ek prof. Dr. A. Mukti Ali dan prof, dr, zakiah Daradjat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan psikologi agama di IAIN di Indonesia.
Di luar
itu, ada sejumlah tulisan yang berkaitan dengan psikologi agama ini. Tulisan
tersebut dikembangkan dilingkungan bidang kedokteran, seperti yang dilakukan
oleh prof. Dr. Aulia maupun K.H. SS. Djam’an yang melakukan pendekatan dengan
menggunakan ajaran agama islam. Sedangkan dibidang akademik tulisan- tulisan mengenai psikologi agama
banyak dihasilkan oleh kalangan gereja khatolik.
Psikologi agama tergolong cabang
psikologi yang berusia muda. Berdasarkan informasi dari berbagai literatur,
dapat disimpulkan bahwa kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang
berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Selain itu,
pada tahap-tahap awalnya psikologi agama didukung oleh para ahli dari berbagai
disiplin ilmu.
Psikologi
Agama Abad ke-20
Sumber-sumber
barat mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah modern dilapangan psikologi agama
dimulai dari kajian para antropolog dan sosiolog seperti Stanley Hall.
Disamping itu, hal yang sangat menguntungkan adalah bahwa disekitar pergantian
abad ke-19 dan ke-20 terbit dua buah buku yang menjembatani jurang antara
psikolog dan agama serta banyak mengatasi rasa permusuhan antara keduanya.
Sumber-sumber
barat umumnya merujuk awal kelahiran psikologi agama adalah dari karya Edwin
Diller Starbuck dan William James. Buku karya E.D. Starbuck diterbitkan tahun
1899, dinilai sebagai buku paling khusus membahas masalah yang menyangkut
psikologo agama. Setahun kemudian, William James menerbitkan buku yang berisi
pengalaman agama. Buku-buku ini dianggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari lahir psikolosi agama menjadi
disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Psikologi
agama diakui sebagai disiplin ilmu, cabang dari psikologi, seperti ilmu-ilmu
cabang psikoogi lainya.
Jadi,
pada dasa warsa awal abad ke-20 para penulis dan peneliti yang karya-karyanya
bertumpu pada karya Starbuck dan James memberi identitas pada munculnya istilah
“Psikologi Agama”.
Setelah
negara islam bebas dari kungkungan penjajah barat, secara bertahap muncul
karya-larya ilmuwan muslim. Karya penulis muslim di zaman modern, seperti buku
al-maghary, bagaimanapun dapat disejajarkan dengan karya-karya yang dihasilkan
oleh ahli-ahli psikologi agama lainya. Selain itu juga, bukunya yang mulai
khusus kepada disiplin ilmu tertentu, seperti al-nummuwu al-nafsy. Keduanya
diterbitkan tahun 1955 dan 1957.
Sejak
menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama
dinilai cukup pesat, dibandingkan dengan usianya yang masih muda. Hal ini
antara lain disebabkan, selain bidang kajian psikologi agama menyangkut
kehiduan manusia secara pribadi, maupun kelompok, bidang kajianya juga mencakup
permasalahan yang menyangkut perkembangan usia manusia.
Perkembangan
agama yang cukup pesat ini ditandai dengan diterbitkanya berbagai jarya tulis,
baik berupa buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana
peranagama dalam kehidupan manusia.
METODE
PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Sebagai
disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian
ilmiah.Kajian dilakukan dengan memepelajari fakta-fakta berdasarkan data yang
terkumpul dan dianalisis secara objektif.
Karena
agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangant
mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari
pengaruh subjektifitas.Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat
dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya,
masih diperlukan adanya sikap yang objektif.
Makanya
dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain:
1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan
kesadaran batin manusia;
2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman
dapat dibuktikan secara empiris;
3. Dalam penelitian harus bersikap
filosofis-spiritualistis;
4. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan
angan-angan atau perkiraan khayali;
5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi
dan metodenya;
6. Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui
metode-metodenya;
7. Menyadari tentang adanya, perbedaan antara ilmu
dan agama;
8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang
digunakan dalam penilitian ilmiah.
Dengan berpedoman kepada petunjuk-petunjuk seperti dikemukakan
di atas, diharapkan para peneliti dalam mengumpulkan,
mengolah dan menganalisa data akan bersikap lebih objektif.
Dalam
meneliti psikologi agama digunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat
dikemukakan sebagai berikut:
1. Dokumen
Pribadi (Personal Document)
2. Kuesioner
dan Wawancara
Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama
sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan
jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen
pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Demikian pula, ada yang menggunakan
dokumen pribadi, baik berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan,
juga menggunakan angket, dan wawancara sebagai pelengkap.
Psikologi Agama dalam
Islam
Secara terminologis,
memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan klasik, karena latar
belakang sejarah perkembangannya bersumber dari leteratur Barat. Dan dikalangan
ilmuan Barat yang mula-mula menggunakan sebutan psikologi agama adalah Edwin
Diller Starbuck, melalui karangannya Psychology of Religion yang terbit
tahun 1899. Namun, hal ini tidak berarti bahwa di luar itu studi yang berkaitan
dengan psikologi agama belum pernah dilakukan oleh para ilmuwan non-Barat.
Meskipun di kalangan ilmuwan Muslim kajian-kajian
dalam psikologi agama mulai dilakukan
secara khusus sekitar pertengahan abad ke-20, namun permasalahan yang ada
sangkut-pautnya dengan bidang kajian ini sudah berlangsung sejak awal
perkembangan Islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran
Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama.
Sudah sejak lama Al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia
sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki sosok diri yang terbentuk dari unsur
fisik dan nonfisik. Secara anatomis, pemahaman terhadapa unsur fisik tampaknya
tak jauh berbeda dari konsep manusia menurut pandangan ilmuwan Barat, meskipun
dalam pengertian khusu konsep Islam tentang manusia lebih rinci.
Di
abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual
mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap
prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik
terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi
lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak)
untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum
terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud,
Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.
Subscribe to:
Comments (Atom)